Tag

, , ,

Danau Tondano-2

Produksi ikan yang dihasilkan dari Danau Tondano di Minahasa sangat memprihatinkan. Jika pada tahun 1976 danau terbesar di Sulawesi Utara ini bisa menghasilkan 3.027 ton per tahun, maka kini tinggal 534 ton.

Hal ini terungkap dalam pemaparan ketika Diskusi Penyelamatan Danau Tondano digelar oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara yang juga dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Balthasar Kambuaya, Jumat (23/11/2012) di Tondano, Minahasa.

"Eutrofikasi menjadi masalah di Danau Tondano, dengan penyebab utama adalah semakin luasnya tutupan eceng gondok yang penyebarannya semakin tidak terkendali," ujar Bupati Minahasa Stevanus Vreeke Runtu.

Padahal, Danau Tondano merupakan sumber air utama bagi sebagian besar warga Sulawesi Utara khususnya di Minahasa dan Manado. Daerah aliran sungai Tondano meliputi 54.142 hektar yang membentang di sepanjang Minahasa dan Minahasa Utara.

Air dari DAS Tondano juga digunakan untuk sumber tenaga 4 buah PLTA milik PLN.
"Air danau ini juga menjadi sumber utama PDAM untuk 25.296 pelanggan. Menjadi sumber air untuk irigasi yang mengaliri 3000 hektar persawahan. Lalu ada usaha perikanan, pertanian, pertambangan galian C dan juga usaha pariwisata," jelas Runtu di hadapan Menteri dan Wakil Gubernur Sulut, Djouhari Kansil serta para pejabat dari BLH Provinsi Sulut dan Minahasa.

Pendangkalan yang semakin parah itu membuat tingkat produksi ikan Danau Tondano merosot drastis. Situasi dilematis juga dialami dengan kehadiran Jaring Apung yang digunakan nelayan untuk memelihara ikan. Sebab, sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan enceng gondok.

Berdasarkan catatan yang ada, jumlah jaring apung yang ada di Danau Tondano kini sebanyak 2.849 unit dengan kebutuhan pakan ikan perhari sebesar 225 ton. Jika setiap hari saja terdapat 10 persen pakan yang tidak termakan, maka ada 22,5 ton pakan sisa yang dapat mendorong peledakan tumbuhan akuatik, termasuk eceng gondok.

Runtu mengakui telah menyediakan dana sebesar Rp 500 juta tahun ini untuk memberdayakan warga mengangkut eceng gondok. Mereka bekerja selama lima jam setiap hari untuk mengangkut eceng gondok. Berbagai upaya lainnya pun telah dilakukan, termasuk kehadiran sebuah kapal khusus mengangkut eceng gondok. Tapi semua usaha itu belum mampu mengatasi pertumbuhan eceng gondok.

Kini tutupan eceng gondok telah mencakup 5,20 persen atau seluas 242,67 hektar dari sekitar 4,665 hektar luas Danau Tondano denganlaju pertumbuhan 400 persen per minggu. Eutrofikasi itu juga telah menyebabkan kedalaman Danau Tondano berkurang dari rata-rata 40 meter pada tahun 1923, kini tinggal 12 meter.

Sehari sebelumnya, Gubernur Sulawesi Utara, SH Sarundajang mengakui kalau dirinya telah kehilangan akal mengatasi laju pendangkalan danau tondano karena tingginya penyebaran eceng gondok tersebut.

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan bahwa penyelamatan Danau Tondano telah menjadi prioritas pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dalam program penyelamatan 15 danau kritis di Indonesia.