Tag

, , , , ,

07-07---MENJELANG-PENGUCAPA

Pagi ini, Senin (9/7/2012) masih ada satu dua kenderaan yang datang dari arah Minsel menuju kota Manado yang salah satu muatannya Nasi Jaha. Kalau itu kenderaan roda dua, bambu yang nampak bekas hangusnya itu diikat di samping boncengan. Bukan cuma satu ujung, paling tidak ada 3 ujung yang dibawa pulang. Itu ole-ole dari Pengucapan Syukur kemarin, Minggu (8/7) di Minahasa Selatan dan juga di beberapa daerah lainnya di tanah Minahasa. Tetapi Minsel-lah yang paling ramai dan punya magnet yang sangat kuat. Mampu membuat harga sewa kenderaan yang biasanya hanya Rp 250 ribu perhari melonjak hingga Rp 1 juta. Semua ingin ke pengucapan.

Inilah tradisi kultural masyarakat Minahasa: "Pengucapan Syukur". Sebuah tradisi yang sudah mengakar setua masyarakat yang mendiami jazirah Utara Sulawesi.

Sebagaimana komunitas primordial lainnya, orang Minahasa punya identitas budaya etnis. Nusantara bersyukur memiliki keragaman tradisi budaya semacam ini, tetapi mungkin hanya di Minahasa yang bisa disebut sebagai sebuah fenomena, karena keutamaannya. Sehingga merasa "berdosalah" jika orang kampung tidak pulang merayakan pengucapan.

Pengucapan Syukur sejatinya berangkat dari masyarakat yang hidup dalam budaya agraris, sebagaimana tanah Minahasa yang dianugerahi tanah subur, sehingga manusia hidup dari apa yang ditanam di alam. Rasa syukur atas apa yang diberikan oleh alam itu, yang oleh orang Minahasa dipercaya sebagai pemberian Sang Pencipta sebagai Pemelihara Alam Raya itu, patut disyukuri. Opo Wananatas, Empung Kasuruan Wangko waktu itu berdauluat penuh atas benih yang ditabur di ladang. Bukan seperti sekarang, makanan siap saji tinggal dibeli di restorant bermerek luar negeri, yang tanpa turun dari mobil pun bisa diperoleh.

Karena itu pemberian Sang Pencipta, maka ketika panen selesai, komonitas yang dirintis Toar dan Lumimuut ini merasa harus mengucap syukur. Tradisi ini lalu tercipta, mempersembahkan sebagian hasil panen sebagai bagian dari Opo Wananatas. Orang Minahasa memang datang dari lingkaran budaya yang sudah memiliki sistem religiositas. Bahkan pada Tari Maengket, salah satu babaknya memasukkan unsur upacara syukur panen.
Tradisi Pengucapan Syukur termasuk salah satu tradisi yang mampu bertahan hingga saat sekarang, dari sekian banyaknya budaya yang tergusur karena masuknya Kristen di tanah
Minahasa. Mungkin karena tradisi ini sejenis dengan yang tercantum dalam Alkitab, sehingga dimaknai sebagai perwujudan Firman Tuhan.

Pengucapan Syukur menjadi begitu populer ketika tanah Minahasa pada tahun 1970-an dilimpahi dengan hasil panen cengkeh. Rasa syukur memang harus selaras dengan hasil yang diperoleh. Hasil yang melimpah tersebut, membuat masyarakat yang merayakannya menjadikan perayaan tersebut menjadi sebuah kemewahan. Pengucapan syukur lalu identik dengan pesta pora. Di tepi jalan orang meletakkan makanan yang sangat banyak. Siapa saja yang lewat dan bertandang bisa singgah dan membawanya pulang. Dan bukan itu saja, bahkan pernah di era Megawati menjadi Presiden RI ketika harga cengkeh menjadi raja, orang yang merayakan pengucapan syukur "mandi bir". Hasil panen melimpah, syukur juga harus banyak, demikian alasan yang dilontarkan.

Lalu kemudian tradisi ini menjadi sebuah fenomena, dari sekedar intensitas bersyukur lalu bergeser menjadi persoalan maraknya sebuah pesta. Jelas ada hitungan berapa doi yang harus disediakan. Intensitasnya bergeser menjadi emosi yang mendorong perilaku baku ambor sampe abis.

Orang lalu mengkritik praktek ini, apalagi mereka yang berada di luar lingkaran budaya itu: orang Minahasa suka pesta, hura-hura, dan boros. Pengucapan Syukur kemarin, Minggu (8/7) menurut hitung-hitungan sebuah koran lokal menghabiskan anggaran tidak kurang dari Rp 100 miliar dengan rata-rata setiap rumah tangga menghabiskan sekitar Rp 1 juta.

Kritikan ini beberapa tahun lalu sudah coba diakomodir oleh tokoh-tokoh gereja dengan hanya memusatkan perayaan Pengucapan Syukur di gereja saja, dan ungkapan syukur yang dikeluarkan hanya dalam bentuk uang yang disumbangkan ke kas gereja, atau dalam bentuk pelelangan hasil bumi yang juga dilaksanakan di gereja.

Modifikasi perayaan pengucapan syukur sejauh ini tidak bisa serta merta menekan kesemarakan pesta pada saat perayaan. Nasih Jaha dan Dodol tetap harus hadir sebagai simbol sebuah pesta. Tuan rumah akan kehilangan wibawa jika tamu yang datang tak membawa pulang dua makanan itu.

Tetap saja biaya besar harus dikeluarkan setiap rumah tangga yang kampungnya sedang merayakan pengucapan syukur. Nada kristis bisa dilontarkan, tetapi biaya yang dikeluarkan itu merupakan ekspresi perkauman. Sebuah ungkapan jati diri yang dalam level tertentu malah dianggap sebagai pernyataan iman. Dan ini dianggap merupakan bagian dari sistem produksi ekonomi orang Minahasa.

Kritik pemborosan bisa dilayangkan, tetapi tidak serta merta itu menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Sebagaimana Tari Maengket yang tidak akan paripurna jika tidak diselesaikan dalam tiga babak, Pengucapan Syukur juga merupakan suatu nilai budaya yang paripurna bagi Orang Minahasa. Keutuhan sebuah dimensi budaya, dan ini sifatnya alami.

Mungkin yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana tradisi ini tetap bertahan sambil mewarisi nilai-nilai positif yang dikodefikasi dalam kehidupan modern. Sebab biar bagaimanapun, penetrasi globalisasi sudah menjangkau hingga ke kampung-kampung. Wilayah agraris semakin tergusur. Pengucapan tetap harus terus jalan sebagai sebuah identitas budaya, tetapi harus dimaknai lebih mendalam.