Tag

, , , , ,

Ratman-Asrar-2

Indonesia sebagai sebuah bangsa besar sering mengklaim sebagai bangsa yang punya budaya tinggi. Bahkan koleksi budaya kita membuat iri bangsa lain. Sebut saja Negeri Jiran yang tak jarang sampai harus mengklaim warisan budaya nenek moyang kita, semisal Reog Ponorogo atau bahkan batik.

Namun kekayaan warisan budaya yang bikin iri bangsa lain itu tak mampu membuat kita tergerak untuk menjaga dan mengawalnya. Sangat terasa sebagai bangsa kita kurang memberi perhatian terhadap nilai penting dari warisan budaya tersebut. Kita malah tergila-gila dengan  kemajuan teknologi, dan menganaktirikan warisan-warisan itu.

Hari ini 18 Mei, sebagaimana yang ditetapkan oleh Dewan Museum Internasional (ICOM) salah satu badan penasehat bagi UNESCO pada sidang ke-12nya tahun 1982 sebagai Hari Internasional Museum dan Warisan Budaya Sedunia.

Unesco yang merupakan Badan PBB yang diserahi tugas mengurus Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan telah lama mengenalkan istilah warisan dunia. Istilah itu adalah penyematan terhadap setiap benda cagar budaya atau alam di seluruh dunia yang dianggap memiliki  Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value).

Sampai saat ini warisan dunia Indonesia yang sudah diakui oleh Unesco berupa tiga cagar budaya serta lima cagar alam. Cagar budaya yang dimaksud adalah Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Situs

Manusia Purba Sangiran. Sedangkan Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Lorentz, dan Hutan Hujan Tropis Sumatra tercatat sebagai warisan dunia cagar alam.

Jika kita mengaku sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, sudah seharusnya lebih banyak lagi situs, monumen, bangunan, budaya, adat istiadat yang mendapat penyematan sebagai warisan budaya dunia.

Sudah selayaknya pemerintah dan masyarakat harus lebih peduli dan memberi perhatian serius terhadap warisan-warisan tersebut. Sebagian besar warisan-warisan tersebut tersimpan di ratusan Museum yang ada di Indonesia. Beberapa museum memang menjadi primadona dengan jumlah pengunjung yang lumayan banyak. Tetapi sebagian besar lainnya merana dan merintih untuk sekedar bertahan dengan biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat minim.

Anak-anak negeri kini lebih suka mengunjungi pusat-pusat keramaian atau mal yang gemerlap dan gegap gempita daripada bertandang ke situs budaya atau museum. Bahkan kalaupun berkunjung, lebih banyak kegiatan melihat-lihat daripada belajar sejarahnya.

Kondisi ini lebih diperparah dengan perhatian yang minim dari pemerintah. Banyak pemerintah kota bahkan ikut-ikutan merubuhkan bangunan-bangunan bersejarah lalu menggantinya dengan bangunan modern seperti mal dan pusat keramaian.

Alhasil, situs-situs bersejarah semakin terbiarkan dan tak terawat. Banyak koleksinya perlahan melapuk dan rusak. Jikapun masih bertahan, itu karena dedikasi yang tinggi dari individu yang peduli dengan sejarah dan warisan budaya tersebut.

Jika ini terus dibiarkan, tak mustahil suatu saat kita akan kehilangan identitas budaya bangsa kita sendiri. Lalu kemudian bangsa lain akan menjajah kita dengan budaya mereka. Haruskah kita membiarkannya?