Tag

, , , , , , , , ,

Ronny-Buol---Nirwana-Mahoro

Menyambangi Sitaro tidaklah sulit. Apalagi sekarang ini sudah saban saat tersedia pelayaran dari Manado ke Sitaro. Trasnportasi laut merupakan satu-satunya penghubung antara kabupaten kepulauan tersebut dengan daerah lainnya.

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO) merupakan kabupaten otonomi baru di Sulawesi Utara. Dulunya, Sitaro merupakan bagian dari Kabupaten Sangihe. Layaknya daerah kepulauan, Sitaro menyimpan sejuta potensi wisata bahari. Demikian pula dengan wisata alamnya. Sungguh indah, dan masih sangat alami.

Sebutnya saja, keindahan Pulau Mahoro yang berada dalam cluster Buhias. Keindahan pulau tak berpenghuni ini sungguh menakjubkan. Ebbie Vebri Adrian, seorang Travel Photographer profesional yang sudah mendatangi lebih dari 2000 destinasi di Indonesia dibuat kagum dengan keindahan pulau Mahoro. “Jika saya diminta membuat daftar 10 pantai terbaik di Indonesia, maka pantai pulau Mahoro masuk dalam daftar tersebut,” komentarnya ketika menginjakkan kaki pertama kali di Mahoro beberapa waktu lalu.

Lain lagi dengan Kamga, vokalis band Tangga tersebut tak habis herannya ketika menyambangi Lehi yang punya pantai berair panas. “Ini luar biasa! Selama saya menjadi host Explore Indonesia, baru kali ini saya menjumpai ada air laut yang panas seperti ini,” ujarnya. Sebagaimana diketahui, Kamga membawakan sebuah acara Travel di salah satu media tv swasta nasional.

Sitaro memang punya segudang destinasi wisata. Gunung Karangetang yang sudah menjadi ikon pulau Siau, merupakan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Disebut sebagai “the real volcano” karena keaktifannya, gunung ini tak pernah berhenti menyemburkan nyala api dari kawahnya. Gunung Api pasif Ruang yang berada di Tagulandang juga menyajikan pemandangan yang eksotis.

Sayang potensi wisata tersebut belum dimaksimalkan pengelolaannya. Pemerintah daerah belum menyediakan infrastuktur pendukung yang memadai. Sebut saja, untuk akses ke Pulau Mahoro, pengunjung harus mencari sendiri perahu yang bersedia disewa. Demikian pula untuk menuju ke pulau Makalehi, salah satu pulau terluar di Indonesia, wisawatan yang berminat kesana harus mencari tahu persis jadwal perahu dari Makalehi ke Siau, sebab tidak setiap saat tersedia perahu.

Kurangnya sarana pendukung lainnya juga masih banyak dikeluhkan oleh wisatawan yang berkunjung ke Sitaro. Seperti tidak adanya dive centre, padahal keindahan beberapa spot penyelaman di Sitaro tidak kalah dengan yang ada di Bunaken.

Begitupula, tidak ada guide local yang ada di Sitaro membuat wisatawan mancanegara yang tertarik kesana, harus membawa guide dari daerah Manado. Sitaro juga belum memiliki Tourism Centre. Praktis wisatawan mengetahui keberadaan potensi wisata Sitaro hanya melalui tulisan-tulisan yang dipublish secara sukarela oleh individu yang merasa terpanggil mempush keindahan kabupaten itu.

Stakeholder yang bertanggungjawab seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Kepl. Sitaro sendiri seolah tidak peduli dengan urusan informasi wisata. Beberapa waktu lalu memang Disparbud Sitaro pernah membuat website. Tetapi situs tersebut sangat miskin informasi dan tidak pernah lagi diupdate (http://www.disbudparsitaro.com/)

Minimnya alokasi dana pengembangan wisata di Sitaro memang menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan potensi yang ada. Padahal jika dimaksimalkan, Sitaro akan menjadi salah satu pilihan utama wisatawan ketika datang ke Sulawesi Utara.

Letaknya yang masih mudah dijangkau dibandingkan dengan Kab. Sangihe dan Talaud. Pun, banyak pilihan destinasi yang dapat dikatakan masih sangat alami (baca: Daftar Objek Wisata Di Kab. Kepl. Sitaro).

Sayang jika potensi wisata yang indah ini harus lama terpendam. Sudah waktunya Pemerintah Daerah Sitaro memaksimalkan keindahan wisata alamnya, agar masyarakat Sitaro bisa turut merasakan dampaknya.