Tag

, , , , , , , , ,

_MG_2488 Selain dikenal sebagai “negeri seribu gereja” Minahasa juga menyimpan wisata sejarah yang menarik. Makam Imam Bonjol yang terletak di Desa Lota, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa salah satunya.

Makam Tuanku Imam Bonjol sendiri berada dalam sebuah bangunan bergaya khas Sumatera Barat. Sebagaimana bentuk bangunan Sumetera Barat, atapnya berbentuk bagonjong. Imam Bonjol sendiri merupakan pahlawan nasional yang terkenal pada masa Perang Padri (1821-1837) di Tanah Minang.

Imam bonjol merupakan ulama yang berpengaruh di bumi Nusantara pada waktu itu. Untuk meredam pengaruhnya, Belanda harus mengasingkannya jauh-jauh dari ranah Minang, Sumatera Barat, ke Minahasa, Sulawesi Utara dan jasadnya dimakamkan di Desa Lota seperti saat sekarang.

Karena merupakan bagian dari sejarah, Makam Imam Bonjol masuk dalam daftar objek wisata sejarah maupun relegi. Banyak peziarah yang datang ke makam ini. Mereka pada umumnya berdoa di kompleks makam, terutama di sebuah bagunan berupa batu tempat Imam Bonjol sering melakukan sembayangnya.

Sayang kompleks bangunan yang menjadi objek wisata ini kelihatan kurang mendapat perhatian pemerintah. Ainun Minggu (74), pengurus makam yang juga keturunan keempat dari pengawal Imam Bonjol, Apolos mengatakan, “seingat saya bangunan ini terakhir kali direnovasi pada tahun 1992 atas perintah Menteri Perhubungan Azwar Anas. Setelah itu tidak pernah lagi.”

_MG_2497 Makam sosok yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia itu sederhana. Hanya dikelilingi keramik putih dengan nisan bertulisan namanya dan tahun kelahiran, yakni 1774 di Tanjung Bungo/Bonjol, Sumatera Barat, berikut tanggal wafatnya, 6 November 1854 di pengasingan di Minahasa. Nama yang tertulis pada nisan adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional.

“Saya hanya berharap dari sumbangan pengunjung untuk biaya pemeliharaan makam ini,” ujar Ainun mengeluh. Kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam menyediakan dana pemeliharaan dikeluhkannya. “Bahkan gaji saya kadangkala harus tertunda beberapa bulan,” keluhnya lagi.

Namun demikian Ainun yang sering  juga dibantu oleh keluarganya tetap setia menjaga kompleks wisata sejarah tersebut. Demikian pula dengan bangunan yang terletak sekitar 60 meter dari lokasi makam, tepatnya di tepi sungai yang berupa batu datar yang dulu selalu menjadi tempat shalat Imam Bonjol juga tetap mereka rawat.

Sudah seharusnya pemerintah daerah Minahasa lebih memperhatikan objek wisata seperti Makam Imam Bonjol ini, sebab makam pahlawan nasional ini juga merupakan aset bangsa karena merekam jejak sejarah perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan._MG_2501