Tag

, ,

Gedung-Tua Bukan anti modernisasi. Tidak ada yang bisa menolak arus modernisasi, apalagi yang tinggal di perkotaan. Bahkan, bangsa kita harus dipacu untuk menghasilkan karya-karya kreatif dan modern agar bisa sejajar dengan negara lain. Namun modernisasi yang sering diidentikan dengan pembangunan berkelanjutan akan menjadi kehilangan makna jika harus menghancurkan atau menggusur nilai-nilai kesejarahan yang kita miliki. Nilai-nilai itulah yang telah menjadi sumber kearifan lokal selama ini.

Sebuah adagium, “lupa kacang akan kulitnya” mungkin bisa menggambarkan kondisi bangsa kita saat sekarang kaitannya dengan ingatan masa lalu. Adagium itu identik dengan reportoar “Petruk Dadi Ratu.” Sebuah lakon yang menggambarkan Petruk yang jelata sedang berada diatas tahta kekuasaan dengan memangku perempuan sexy nan bahenol, sambil mencekik botol minuman keras. Lakon yang merepresentasikan ikon jahat betapa kekuasaan, uang dan perempuan bisa membuat orang lupa akan kesejatiaan dirinya.

Milan Kundera, Novelis asal Rusia itu pun pernah bilang bahwa salah satu perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa. Kita memang bangsa pelupa. Berbagai fenomena kekerasan yang menguras kesenduhan dan tragis mengoyak bangsa ini semakin membenarkan bahwa kita sedang hidup dan berkawan dengan sesama bangsa yang suka lupa. Kita hampir selalu lupa dengan sejarah bangsa kita sendiri.

Kita bahkan cenderung suka menampar muka kita sendiri dengan tindakan yang tidak cerdas karena enggan dan malas untuk belajar dari kearifan nilai-nilai historis yang pernah kita miliki. Padahal kita dikenal sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Kita menjadi begitu gampang melupakan peristiwa-peristiwa masa lalu yang seharusnya bisa menjadi “meseum peradaban” sebagai salah satu sumber kearifan diri.

Berbagai ironi kita saksikan, bagaimana situs dan cagar budaya yang telah mewariskan kearifan itu digusur serta dihancurkan hanya demi alasan pembangunan. Kalaupun bagian sejarah itu tidak digusur, ia dibiarkan sendiri menghadapi zaman. Sekarat tanpa biaya perawatan, berlumut menangisi keadaan, hingga pasrah digasak maling dan dijual ke orang asing yang lebih menghargainya daripada bangsa sendiri.

Tanpa sadar (atau memang justru disengaja) kaum hedonis pemilik modal sering “mencuci otak” anak-anak bangsa atas kesaksian bangsanya sendiri. Betapa banyak tempat dan monumen serta tanah-tanah warisan budaya yang harus digusur, lalu kemudian diganti menjadi kawasan modern dengan super mall berdiri di atasnya, serta bangunan-bangunan bergaya aristokrat. Kasihan anak-anak bangsa kita. Mereka kehilangan spasi untuk bermain sesuai dunia dan nalurinya. Permainan mereka adalah permainan canggih yang harus dijalankan dengan koin. Permainan tradisional yang mengandung nilai kearifan lokal, keuletan, kerja keras dan mandiri tenggelam.

Anak-anak bangsa tidak lagi tertarik untuk datang belajar pada saksi sejarah. Semuanya sudah tersaji dengan cepat dan instant. Benda-benda sejarah teronggok sepi sendiri di meseum. Berkarat dan berdebu karena jarang disentuh. Pintu meseum lebih banyak tertutup daripada disolek agar pengunjung tertarik untuk mampir.

Kita bahkan enggan lagi menyisipkan anggaran untuk memelihara warisan kearfian lokal itu. Mereka hanya sesekali disinggung ketika penanggalan jatuh pada perayaannya. Alhasil, penjaga meseum, situs budaya, pemelihara benda-benda bersejarah lebih banyak bekerja karena keikhalasan. Kita memelihara mereka dalam lupa, dan nanti berteriak bak pejuang ketika ada bangsa lain yang mencoba mengklaim. Padahal dalam lupa itu tersimpan jalan panjang sejarah bangsa kita. Sebuah bangsa yang pernah disegani karena peradabannya.