Tag

, , , , , , , ,

Salmon

Salmon Mamahi pekerja serabutan di Desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara telah dengan bijak memanfaatkan beberapa limbah menjadi sesuatu yang dapat mendatangkan penghasilan bagi keluarganya.

Pria 39 tahun ini dengan cermat dapat membuat beberapa kerajinan tangan. Diantaranya mengolah tempurang kelapa menjadi asbak, vas beserta bunganya, limbah kayu menjadi ikan hias, miniatur perahu dan tiruan burung. Demikian pula dengan sabut kelapa yang diubat menjadi asbak besar, serta beberapa kerajinan tangan lainnya yang kesemuanya dari bahan yang sudah tidak terpakai lagi.

Desa Bahoi merupakan desa pesisir yang dikarunia keindahan alam yang mempesona. Berkat pendampingan yang dilakukan oleh Worldwild Conservation Society Indonesian Programme (WCS-IP) Sulawesi Utara dan PNMPM-LMP, Desa Bahoi menjadi desa wisata yang dikelola secara langsung oleh masyarakat. Konsep ekowisata merupakan pilihan bagi masyarakatnya dengan pertimbangan mempertahankan lingkungan alam yang ada.

Disamping mengkedepankan wisata pantai, terumbu karang, mangrove, underwater, Pemerintah Desa Bahoi juga mendorong berkembangnya kerajinan tangan yang bisa dibuat oleh masyarakatnya tanpa harus merusak lingkungan. Bahan baku dari limbah merupakan pilihannya.

Salmon Mamahi merupakan salah satu warga desa yang sempat menikmati pelatihan peningkatan keterampilan yang disupporting oleh WCS-IP Sulut dan PNPM-LMP. “Kami mencoba memberikan pendampingan kepada mereka, agar kapasitas mereka dalam memproduksi kerajinan tangan bisa lebih maksimal. Disamping itu mereka diberi stimulus agar lebih kreatif dalam mencipta berbagai model kerajinan,” jelas Sonny Tasidjawa dari WCS Marine memberikan penjelasan.

Kerajinan-Bahoi2

Walaupun masih menggunakan alat kerja yang terbatas (manual), namun warga desa Bahoi yang telah mendapat pelatihan dan pendampingan ini telah mampu memproduksi beberapa model kerajinan tangan. “Yang kami perlu sekarang adalah perhatian pemerintah daerah dalam pemodalan agar kami bisa memakai alat produksi yang lebih modern,” Salmon membeberkan harapannya. Lebih lanjut pria yang sudah memiliki seorang istri dengan dua anak ini juga berharap, agar pemerintah daerah dapat membantu dalam pemasaran. “Sebab kami hanya berharap pembeli dari tamu yang datang ke Bahoi,” katanya.

Keinginan Salmon untuk mengembangkan kerajinan tangan ini nampak dari semangatnya bekerja dan menularkan keterampilannya itu kepada anaknya. Adalah Ivensisko, sang bungsu yang baru berusia 9 tahun dan baru duduk di kelas 4 sekolah dasar, tetapi sudah mampu membuat gelas dari tempurung kelapa dengan cermat.

Apa yang dilakukan oleh Salmon Mamahi sejak 2011 lalu, untuk mencari penghasilan tambahan bagi keluarganya di Desa Bahoi bisa menjadi contoh bagi yang lain, untuk dapat memanfaatkan limbah yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomis.