Tag

, , ,

Catatan Sebagai Renungan di Jumat Agung

Salib-Anak Kesaksian Kitab Injil atas proses pengadilan Yesus yang berakhir dengan vonis hukuman mati oleh Pilatus, penguasa Romawi pada saat itu merupakan sebuah hasil persengkokolan. Keempat Injil memberitakan bahwa kematian Yesus pada saat itu merupakan hasil rekayasa para imam Yahudi, karena ucapan dan tindakan Yesus yang merongrong kewibawaan mereka.

Yesus harus disalibkan, dan orang Farisi mempengaruhi publik untuk membebaskan Barabas, sang penyamun. Pengadilan yang dilakukan oleh Pontius Pilatus hanyalah sebuah pengadilan sandiwara, sebab keputusan untuk membunuh Yesus sudah ditetapkan sebelumnya.

Namun ada catatan menarik dari pengadilan tersebut. Ucapan Pilatus, “aku tidak mendapati kesalahan padanya,” mensiratkan sebuah keraguan dari diri Pilatus ketika harus menjatuhkan vonis hukuman. Pilatus berdiri antara nuraninya dan desakan massa yang menginginkan kematian Yesus. Istrinya telah membisikkan peringatan untuk tidak mengikuti amukan massa.

Patutlah dipertanyakan, mengapa Pilatus ragu mengambil keputusan. Keraguan itu muncul ketika ia dihadapkan antara kepentingan pribadinya sebagai seorang pemimpin dengan kepentingan lain. Orang yang ragu menuruti kata hati, hasilnya pasti akan mempengaruhi identitas dan integritas dirinya nanti. Pilatus bergumul antara memperjuangkan kebenaran yang diketahuinya, atau mencari aman dengan mengikuti desakan massa.

Manusia memang akan menjadi aneh ketika tidak lagi berpihak pada kebenaran. Apalagi ketika manusia berada pada level pengambil sebuah keputusan. Menghukum atau menjatuhkan kesalahan menjadi pergulatan antara benar dan salah. Berpihak pada kebenaran dan keadilan tentunya memerlukan perjuangan yang tidak mudah dan membutuhkan sebuah proses. Yaitu proses menjembatani antara kebutuhan pribadi dengan kebutuhan kebenaran dan keadilan itu sendiri.

Pilatus terbukti bukanlah seorang penguasa yang memiliki sikap yang tegas, yang berani mengatakan salah jika salah dan benar jika itu memang benar. Sejarah telah mencatat ketidakkonsistensi Pilatus. Sikapnya yang ragu itu mengubah sebuah sejarah panjang umat manusia. Sikap ini muncul karena integritas sang pemimpin yang lemah sehingga kewibawaannya diragukan.

Pilatus sebenarnya tahu, bahwa Yesus yang dihadapkan kepadanya tidak memiliki kesalahan apapun. Semestinya sebagai seorang pemimpin yang punya kekuasaan untuk mengambil keputusan, ia harus membebaskan Yesus. Hati kecilnya sudah mengatakan hal tersebut. namun demi mempertahankan popularitasnya di kalangan rakyat, dan berkaitan dengan kedudukan serta jabatannya di pemerintahan, Pilatus lebih mengorbankan Yesus dengan keputusannya.

Salib Yesus pada akhirnya menjadi saksi fanatisme dan manipulasi pemuka agama pada waktu itu. Salib itu mengingatkan kita akan egoisme, ambisi, arogansi pribadi dan golongan semata. Orang Nazaret itu mesti dihukum mati demi memuaskan hasrat para pemimpin agama beserta massa pengikut mereka dalam mengamankan jabatan politik sang penguasa. Pilatus membasuh tangannya, sebagai tindakan mengingkari kebenaran dan keadilan. Yesus menjadi korban ambisi dan oportunitis politik penguasa, demi popularitas dan kelestarian jabatan.

Sangat jamak kita saksikan saat sekarang bagaimana logika hukum tidak berjalan seiring dengan kenyataan keadilan. Antara praktek dan kenyataan sering kali sangat bertentangan. Keputusan sebuah kebijakan lebih mempertimbangkan popularitas penguasa daripada memperjuangkan kepentingan publik.  Vonis lebih membela kepentingan pribadi daripada keadilan umum.

Jumat Agung mengingatkan kita semua akan hal itu. Perjuangan masih panjang. Kita tidak bisa berhenti dan berputus asa menyerukan keadilan yang hakiki. Dalam pernyataan teologi, Jumat Agung mengingatkan kita, bahwa penderitaan bukanlah sebuah akhir. Proses pengadilan Yesus adalah sebuah contoh atas kelicikan, fanatisme sempit, oportunitis dan ambisi penguasa, serta emosi massa yang tak terkendali, yang secara bersama-sama telah melahirkan vonis pidana mati yang sewenang-wenang dan tidak adil itu.

Kayu salib memberikan sinyal kepada kita untuk terus berupaya menghentikan kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan, ketidakjujuran, dan eksploitasi manusia. Fokus salib dialamatkan kepada kemunusiaan agar mendorong penghentian hukum yang menindas, yang pada gilirannya akan memampukan kita meyakini membangun kesejahteraan, kebudayaan dan pengetahuan yang luhur, mengurangi kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran.

Dengan demikian, penderitaan, kesengsaraan serta kematian Yesus bukanlah sebuah kekalahan dan kegagalan atas misiNya, tetapi pengorbanannya di kayu salib adalah bukti yang tak terbantahkan atas sebuah karya penyelamatan terhadap dunia yang semakin tidak adil. Yesus menunjukkan integritas. Semestinya kita juga demikian.