Tag

, , ,

Negeri kita ini memang sedang butuh perubahan besar. Bukan sekedar rumusan atau konsep diatas kertas. Tetapi lebih dari itu, sebuah kemauan. Kemauan mau berubah. Tentunya kearah yang lebih baik. Rasanya, dari hari ke hari kita sebagai rakyat tidak pernah merasakan perubahan yang besar, terutama dalam pelayanan publik.

Sebagai rakyat, sepertinya kita harus berpasrah dengan apa yang harus diterima. Sehingga kondisi tersebut menjadi semacam rutinitas yang memang harus dilalui. Padahal, jika kita mau, banyak perubahan yang semestinya dinikmati rakyat. Soal antrian contohnya, kadangkala kita harus pasrah terjebak dalam antrian yang panjang dan lama, yang sebenarnya bisa diatasi jika regulator mau berbenah. Menambah loket atau petugas misalnya.

Maka tidaklah heran jika pada Selasa (20/03/2012) pagi, Dahlan Iskan mengamuk di pintu toll Semanggi. Menteri BUMN pagi itu hendak menuju kantor Garuda untuk memimpin sebuah rapat. Melihat antrian yang panjang, sementara loket yang ada tidak diopearasikan sepenuhnya, Dahlan turun dari mobilnya. Melempar kursi kosong yang ada di loket itu sambil berucap, “tidak ada gunanya kursi ini.” Pak Menteripun lalu membuka pintu penghalang yang ada, lalu mempersilahkan mobil-mobil yang antre untuk melintas secara gratis.

Tindakan mantan bos Jawa Pos ini diambilnya karena kesal, pihak operator jalan toll, Jasa Marga tidak kunjung memperbaiki jasa layanannya. Padahal pada awal Maret 2012, dalam acara ulang tahun ke-34 salah satu BUMN itu, Dahlan Iskan telah mengintruksikan untuk membatasi antrian di pintu tol maksimal 5 kenderaan.

Memang untuk menjamin kenderaan yang antri di pintu tol maksimal 5 kenderaan bukan juga pekerjaan yang mudah. Direktur PT Jasa Marga Terbuka, Adityawarman memberikan penjelasan, untuk mencapai kondisi maksimal 5 kenderaan tersebut, harus didukung dengan pengguna e-toll card diatas 30%. Saat sekarang pengguna e-toll card baru mencapai 15%.

Inspiring Leader

Dahlan Iskan Tadi pagi (Rabu, 21/03/2012) dalam wawancara live dengan salah satu TV nasional, Dahlan Iskan yang sudah berada di Cina untuk keperluan medical chek-up mengatakan, sebaiknya Jasa Marga lebih berani untuk berimprovisasi dalam mengatasi antrian tersebut. Misalnya dengan memberlakukan pintu toll berjalan. Maksudnya, jika terjadi antrian, petugas-petugas Jasa Marga yang sudah disiapkan, keluar dari loket dan menjemput pembayaran karcis toll langsung di kenderaan. Begitupula, jika Jasa Marga kekurangan personil, maka bisa memberdayakan para pedagang asongan yang berada disekitar pintu toll.

Dahlan Iskan memang sosok yang tindakannya selalu menuai pro dan kontra. Sudah beberapa kali tindakan spontannya mengejutkan banyak orang. Selalu saja dalam tindakannya membawa sesuatu yang impresif. Tertanam dengan jelas dalam ingatan, bagaimana Dahlan Iskan mampu menyulap kembali Jawa Pos selama 5 tahun dia disana. Dari sebuah koran nasional yang tinggal beroplah 6000 eksemplar kembali menjadi surat kabar yang diperhitungkan dengan oplah 300.000 eksemplar. Publik juga ingat, bagaimana sepak terjangnya di PLN ketika menjabat sebagai Dirut dalam waktu yang sangat singkat itu. Sangatlah wajar jika salah satu media nasional, memberi Dahlan Iskan penghargaan “Inspiring Leader” bersama 24 tokoh lainnya.

Apa yang dilakukan oleh Dahlan Iskan sebenarnya adalah protype perilaku seorang pemimpin yang diinginkan negara ini. Diantara krisis kepemimpinan nasional menjelang 2014, Dahlan Iskan muncul dengan perilaku-perilaku yang patut menjadi teladan. Dahlan Iskan seakan menohok perilaku barisan politisi partai yang hanya pintar berkoar-koar di media dan mengotori Senayan. Perilaku yang seakan tanpa dosa, walau sudah terbukti bersalah mengkorupsi uang negara.

Dalam terminologi improvement, apa yang dilakukan oleh Dahlan Iskan bisa diartikan sebagai the act of improving something. Ya. menjadi pemimpin harus punya inisiatif memperbaiki sesuatu. Instruksi saja tidak cukup. Diperlukan tindakan nyata. Jika pemimpin sudi turun sampai di lini paling bawah, maka keinginan perubahan tidak hanya berhenti di kertas dokumen hasil keputusan. Seorang penulis warga melaporkan di Kompasiana kemarin sore (Selasa 20/03/2012), Pintu Tol Semanggi yang biasa macet, kini sudah lancar. (http://bit.ly/GDbhJH)

Demikian pula, tindakan Dahlan Iskan tersebut dapat menerjemahkan arti improvement yang sesugguhnya, a change for the better. Sejatinya, pembangunan memang harus menjadikan kondisi masyarakat harus lebih baik. Hasil pembangunan saat sekarang mungkin sudah baik, tetapi tekad untuk lebih baik di masa akan datang, seharusnya tetap terus menjadi motivasi untuk mensejahterahkan rakyat.

Tetapi, harus diingat pula, bahwa the act of improving something itu  harus dapat dipertanggungjawabkan. Tindakan perubahan tidak mesti asal gebrak. Maka, sangatlah tepat ketika Dahlan Iskan mengomentari tindakannya yang mengratiskan mobil masuk pintu toll pagi itu dengan tanggung jawab, “Kalau Jasa Marga merasa dirugikan, suruh tagih ke saya. Saya bayar,” katanya.

Sudah saatnya memang kita memerlukan sosok-sosok pemimpin yang dapat menginspirasi. Menginspirasi tindakan nyata, bukan hanya sekedar wacana. Pemimpin yang tidak hanya pintar berpidato dan bersilat lidah di media, tetapi pemimpin yang siap turun langsung tanpa harus diminta. Pemimpin yang impresif. Albert Schweitzer menyebutnya sebagai, “Example is leadership. Pemimpin itu harus memberi contoh.

Dahlan Iskan adalah salah satu sosok teladan pemimpin yang suka memberi contoh. Pemimpin yang menyukai perubahan. Bagaimana dengan kita? Ayo, berubah, walau kita hanya sebagai pemimpin komunitas kecil sekalipun. Kepala keluarga misalnya.