Tag

, ,

SBY 

Bola panas mengenai kenaikan BBM nampaknya semakin mengelinding. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi tersebut memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Perubahan situasi politik dan ekonomi global memaksa kenaikan harga minyak mentah di pasaran dunia. Indonesia, yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan konsumsi BBM, mau tidak mau harus menyesuaikan dengan gejolak harga tersebut.

Pemerintah telah mengajukan rencana kenaikan BBM bersubsidi tersebut kepada DPR. Pro dan kontra pun tak terhindarkan. Berbagai desakan menolak kebijakan tidak populer tersebut seperti menohok pemerintah yang dipimpin oleh SBY. Dalam berbagai kesempatan, SBY seperti tersudut dengan rencana tersebut. Belum lagi kasus korupsi yang menimpa beberapa petinggi Partai Demokrat, seakan menyudutkan posisi SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Alhasil, ditengah tekanan yang kuat tersebut, pada Minggu malam (18/03/2012), SBY mengumpulkan sejumlah kader partai Demokrat di kediaman pribadinya, Cikeas. Pertemuan SBY dengan politisi Demokrat seperti itu memang sering dilakukan. Tidak ada yang istimewa. Tetapi ceritanya menjadi lain, ketika SBY menyampaikan pidatonya.

Bola panas pun semakin kencang mengelinding. Adalah pernyataan SBY mengenai situasi politik nasional yang sedang terjadi menjadi pangkalnya. SBY mendasarkan pidatonya sebagai pembekalan kepada kader partai. Dan atas dasar pembekalan tersebut, SBY mengajak agar kader Partai Demokrat punya keberanian melawan serangan-serangan yang dilakukan lawan politik. Bahkan, secara gamblang, SBY mengatakan telah mencium gerakan aneh di masyarakat yang bertujuan menjatuhkannya dari jabatan presiden sebelum masa jabatannya berakhir pada 2014.

Dalam pidato yang selalu disambut jawaban oleh kader partai yang hadir tersebut, memang tidak disebutkan secara spesifik, siapa yang menjadi lawan Partai Demokrat. Tetapi kalau dilihat dari peta perpolitikan nasional saat sekarang, dimana terdapat sepuluh partai yang mewakili  yakni; Demokrat, Golkar, PAN, PKS, PPP, PAN, PKB, PDI-P, Gerindra dan Hanura, hanya tiga yang disebut paling belakang yang tidak menjadi anggota koalisi Kabinet SBY.

Sejalan dengan itu, beberapa waktu sebelum pertemuan di Cikeas tersebut, Ramadhan Pohan, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat menuding bahwa Jenderal (Purn) Wiranto dari Partai Hanura ingin melakukan kudeta, atau katanya pula ada kelompok lain yang sedang bermain.

Pernyataan SBY ini, memang cukup mengejutkan. Pasalnya, SBY terpilih secara meyakinkan selaku presiden melalui pemilihan langsung, dengan kemenangan yang sangat signifikan. Sehingga untuk menjatuhkannya, tidaklah semudah yang dibayangkan. Tambahan pula, Partai Demokrat menguasai kursi di parlemen.

Jelas kegelisahan tersirat dari pernyataan SBY tersebut. Walau dalam penyampaian pidato tersebut SBY terlihat tenang, namun secara psikologi nampaklah SBY merasa cukup terganggu. Situasi yang dianggap menganggu itulah yang memaksa SBY meminta dukungan dari internal Partai Demokrat agar bangkit melakukan perlawanan.

Berbagai aksi demonstrasi yang terjadi terus menerus di berbagai kota di Indonesia dalam menentang rencana kenaikan BBM per 1 April mendatang, memang patut diwaspadai. Jangan sampai ditunggangi oleh lawan politiknya. Tetapi, berpikir dan menganggap ada rencana kudeta untuk menurunkan pemerintahan yang sedang berlangsung, juga terlalu berlebihan. Apalagi itu disampaikan oleh seorang SBY.

Pernyataan itu semacam provokasi secara tidak langsung. Sebab, jika SBY benar-benar ingin memberikan pembekalan kepada kader partainya, dan ingin menjadi pemimpin atau presiden bagi semua rakyat Indonesia, maka selayaknyalah SBY mengajak para kader Partai Demokrat yang merupakan kekuatan mayoritas untuk mengeluarkan pernyataan yang mendinginkan suasana. Bukan malah memprovikasi.

Tak dapat dipungkiri, setelah pernyataan SBY tersebut suasana menjadi lebih keruh. Beberapa pendapat menyatakan, seruan untuk melakukan perlawanan terhadap lawan-lawan politik Partai Demokrat, sangatlah beresiko. Seruan perlawanan itu, dapat menjadi multi tafsir.

Lagi pula jika mencermati situasi saat sekarang, adakah kekuatan yang benar-benar ingin menjatuhkan SBY sebelum masa jabatannya berakhir?.  Sebab, melihat situasi ekonomi dan peta demokrasi yang terjadi saat sekarang, kelihatannya tak ada partai atau tokoh yang berminat mengambilalih kekuasaan dari tangan SBY. Rakyat sudah letih dengan situasi bongkar pasang politik dan pemerintahan. Kudeta hanya akan menghancurkan tataran demokrasi yang sudah capek-capek dibangun bersama.

Daripada mengumbar pernyataan yang berbau provokasi, sebaiknya SBY dengan bijak menenangkan rakyat dengan membuka jalan bagi mulusnya keadilan atas penegakkan beberapa kasus korupsi besar yang sedang ditangani baik oleh KPK maupun Kejaksaan. Salah satunya, kemungkinan Anas menjadi tersangka. Itu lebih elegan.