Tag

, ,

time-travel Dalam beberapa hari ini ada yang tiba-tiba ingin menseragamkan zona waktu Indonesia. Cukup pakai satu zona waktu saja kata mereka. Alasannya, demi efisiensi dan agar jam kerja bisa lebih cepat.

Memang kalau mau ditilik, perbedaan 2 jam antara Papua dengan Jakarta bisa menjadi tidak efisien dalam hal bisnis dan ekonomi. Ketika bank di Papua hendak melakukan kliring pagi-pagi dengan bank di Jakarta, dia harus menunggu sampai jam 10, karena bank di Jakarta baru akan buka pada jam 8.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang terlihat ngotot dengan perubahan zona waktu ini. "Sekarang yang pertama, kita memulai kerja lebih awal, kalau sekarang kita bekerja jam 8, di daerah Singapura dan sekitarnya itu sudah berniaga, sudah bikin profit barangkali, kita baru mulai kerja, transaksi dan sebagainya, sudah ketinggalan 1 jam. Dan 1 jam itu sangat berharga," paparnya

Silang pendapat terhadap perubahan waktu, beberapa hari ini menjadi diskusi yang menarik. Para ulama memberi jaminan, perubahan waktu tidak mempengaruhi waktu shalat, karena shalat tidak tergantung pada jam, tetapi pada matahari.

Perubahan zona waktu demi efisiensi telah dilakukan terlebih dahulu oleh beberapa negara. Cina, sebagai negara besar telah melakukannya sejak tahun 1959. Dari empat zona waktu menjadi satu saja. Lalu Rusia, pada 2010 mengurangi 11 zona waktu menjadi sembilan.

Zona waktu dunia disepakati sebagai ketetapan internasional sejak Oktober 1884. Ketetapan itu menetapkan bujur 0 derajat sebagai waktu GMT. Dan tiap perbedaan 15 derajat berselisih 1 jam. Indonesia, melalui Keppres No. 41 Tahun 1987 diatur dalam 3 zona waktu, yakni Waktu Indonesia Barat, Waktu Indonesia Tengah dan Waktu Indonesia Timur.

Pembagian 3 zona yang berlaku sejak 1988, itu sedikit bermasalah. Kalimantan yang merupakan satu daratan berada dalam dua zona waktu. Masalah juga timbul dibatas antara zona tersebut. Jawa Timur yang masuk dalam zona waktu indonesia barat, tapi mendekati zona waktu indonesia tengah, akan merasakan matahari berada tepat di tengah 40 menit lebih cepat ketimbang yang berada di kawasan Barat, seperti Sumatera Barat.

Pembagian 3 zona waktu itu, juga tidak menyeragamkan waktu bangun pagi orang yang tidak shalat subuh. Orang Papua sudah 2 jam lebih dulu bangun, orang Sumatera baru melepas selimut. Penyeragaman zona waktu nanti, akan membuat orang Indonesia bangun bagi serentak, dan pulang kantor juga serentak. Dan tidak ada lagi, malam pergantian tahun yang tiga kali diadakan.

Tapi alasan utama Hatta Rajasa bukan itu. Lebih jauh dia memerinci soal penghematan yang dapat dilakukan dengan perubahan zona waktu. "Untungnya banyak, bisa menghemat triliunan, hemat energi dan lebih cepat kita terkonek dengan dunia luar dalam melakukan bisnis," kata Hatta.

Tapi apa iya, dengan perubahan zona waktu itu, akan otomatis membuat jam biologis dan psikologis masyarakat kita juga berubah? Masalahnya, sudah menjadi ciri khas orang Indonesia menggunakan jam karet dalam melakukan janji temu. Janji jam 8, datang jam 10.

Korupsi bukan saja laten dalam penyimpangan anggaran. Tetapi juga sudah menjadi masif dalam soal waktu. Sungguh susah berharap sebuah pertemuan bisa tepat waktu mulai dan tepat waktu juga selesai. Bahkan, sudah menjadi pemandangan biasa dan sangat umum, para pegawai kantor pemerintah sudah tidak berada di ruangannya sebelum apel pulang.

Jadwal kereta yang tak pernah tepat. Demikian pula jadwal penerbangan yang suka delay. Waktu masih terus dikorupsi. Jadi buat apa menyatukan zona waktu, jika penghargaan terhadap waktu itu sendiri tidak dibenahi?

Arloji semestinya bukan hanya sebuah alat penunjuk waktu. Tetapi, sejatinya arloji bisa menjadi rambu kedisplinan menepati waktu. Pencegahan tindakan korupsi, bisa dimulai dari hal kecil, termasuk tidak mengkorupsi waktu.