Tag

, , , , , , ,

Lampu-MerahSejak beberapa tahun terakhir, kemacetan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Kota Manado. Orang Manado, menyebutnya dengan “ta prop.”

Prop, berasal dari bahasa Belanda, yang berarti tersumbat, tidak jalan, tidak ada jalan keluar. Bahasa Melayu Manado memang banyak teradaptasi dari bahasa Belanda. Biasanya kalau kenderaan sudah terjebak di tengah kemacetan, penumpang langsung mengeluh, “so ta prop lagi,” maksudnya macet lagi.

Beberapa kali pihak terkait mengubah jalur kenderaan untuk mengatasi kemacetan. Tetapi bukan menyelesaikan masalah, malah menambah parah kemacetan. Apalagi dihari-hari sibuk seperti menjelang natal yang baru saja lewat. Bayangkan, saya pernah terjebak di angkutan kota selama 2 jam dari Malalayang sampai Pusat Kota Pasar 45. Padahal jarak yang ditempuh hanya sekitar 5 kilometer.

Alhasil, kemacetan sudah menjadi sahabat akrab masyarakat Kota Manado. Saya, mencoba membuat catatan penyebab kemacetan tersebut, yang justru tidak pernah dimaksimalkan penanganannya.

1. Kapastitas jalan yang tidak mendukung laju pertumbuhan kenderaan.

IMG_7434 Kota Manado memang sedang bertumbuh sangat pesat. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekaligus mendorong semakin banyaknya orang kaya. Semakin banyak orang kaya, semakin banyak mobil yang dibutuhkan. Kini, di garasi orang kaya Manado, bukan hanya terdapat satu mobil. Bahkan, ada rumah yang hanya dihuni 3 orang anggota keluarga, tetapi di garasinya bisa terdapat lebih dari 3 mobil. Pertumbuhan mobil pribadi sangat tinggi. Di jam-jam sibuk, jumlah kenderaan pribadi yang melaju di jalan umum, bisa 6-7 kali lebih banyak dari kenderaan umum.

Pertumbuhan laju kenderaan yang tinggi ini, tidak dibarengi dengan pertambahan daya tampung jalan. Kapasitas jalan di Kota Manado terhitung begitu-begitu saja. Tidak ada lagi usaha untuk menambah kapasitas jalan. Sejak jalan utama Boulevard diperlebar dan jalan poros Malalayang, tidak ada lagi pertambahan kapasitas jalan di Kota Manado. Beruntung, jalan poros Bandara – Paal 2 sudah diperlebar ketika menyambut event international WOC. Tetapi, jalan utama lainnya, seperti jalan Samrat, Wenang, Sarapun, Karombasan, Bersehati, Bethesda tetap seperti itu saja.

Menurut catatan, panjang ruas jalan arteri di Kota Manado adalah sekitar 57 KM. Jumlah angkutan kota (mikrolet) saja, yang beroperasi aktif sebanyak 3000 buah. Pada tahun 2004 saja terdapat total 58.776 kendaraan di Kota Manado. Sementara saat sekarang diperkirakan setiap bulan bertambah 4000 kenderaan baru.

2. Perilaku Pengguna Jalan yang tidak taat aturan.

Masih kurangnya kesadaran masyarakat kota mematuhi aturan lalu lintas, juga menjadi penyumbang kemacetan. Baik itu pengemudi, penumpang maupun pejalan kaki. Hampir semuanya memberi kontribusi.

IMG_1878 Pengendara motor ini, seenaknya menyerobot trotoar untuk pejalan kaki.

IMG_7325Kurang apalagi, terdapat 4 buah rambu lalulintas, dilarang berhenti, tetap saja tidak diindahkan oleh pengemudi. Dan pengguna jalanpun, menyebrang jalan tidak pada tempatnya.

IMG_7659  Pengguna jalan hanya akan taat, jika ada petugas yang turun mengawasi.

IMG_0164  Menunggu angkutan umum tidak pada tempatnya.

4R

 Rambu lalu lintas tak dipedulikan. Penumpang pun turun seenaknya.

 

3. Penempatan Rambu Lalu Lintas yang kurang tepat.

IMG_1898Kadang kala penempatan rambu lalu lintas bukannya membantu, malah memperparah  kemacetan. Perubahan jalur, juga kadangkala tidak diikuti dengan perubahan petunjuk lalu lintas yang tepat. Perhatikan foto disamping ini, lampu lalu lintas dan petunjuk arah jalan malah berlawanan arah dengan arus kenderaan. Ini terjadi ketika perubahan jalur kenderaan, tidak diikuti dengan perubahan penempatan rambu-rambu lalu lintas.

 

 

 

4. Pengerjaan proyek di tengah keramaian.

IMG_8748

Point ini juga menjadi penyumbang terbesar kemacetan. Pengerjaan beberapa proyek di ruas jalan, kadang terlalu lama dan memakan space jalan yang lumayan besar. Otomatis arus kenderaan jadi terhambat. Bahkan, beberapa kali pemasangan baliho iklan raksasa yang memotong jalan, dilakukan pada siang hari, tanpa peduli kemacetan arus lalu lintas.

5. Kenderaan yang sudah tak laik jalan masih berkeliaran.

Masih terdapatnya kendaraan yang sebenarnya sudah tidak laik jalan masih beroperasi, juga memberi kontribusi penyumbang jumlah kenderaan. Hal ini paling banyak terjadi pada jenis angkutan umum. Di beberapa terminal, terdapat banyak kenderaan umum yang kondisinya sudah memprihatinkan, tetapi masih diijinkan beroperasi. Ketidaktegasan dinas pemberi ijin perlu dipertanyakan.

6. Kondisi drainase yang memprihatinkan.

IMG_7925 Ini juga salah satu penyumbang kemacetan di jalan Kota Manado. Jika hujan lebat datang, beberapa ruas jalan, terjadi banjir kecil. Drainase yang ada tidak dapat menampung luapan air. Alhasil, genangan air tersebut menyebabkan kemacetan.

Itulah beberapa catatan saya mengenai penyebab masalah ta prop di Kota Manado.