Tag

, , , ,

24 Desember. Malam Natal. Kenangan saya justru mengembara ke masa kecil, sewaktu duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah. Jika usia saya sekarang mendekati 40 tahun, berarti kejadiannya berlangsung sekitar 25-30 tahun lalu.

Bulontio, demikianlah nama kampung tempat saya belajar mengenal masa kanak-kanak hingga remaja. Berada disebuah Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo yang waktu itu masih bergabung dengan Provinsi Sulawesi Utara. Bulontio sendiri terdiri dari dua desa. Bagian Barat dan Bagian Timur. Saya tinggal di Bulonti0 Barat, yang merupakan ibukota kecamatan.

Ayah saya suku Sanger, sebuah kepulauan di ujung Utara Sulawesi. Ibu saya terlahir sebagai suku Minahasa. Kami bisa berada di Bulontio karena ayah saya seorang tentara. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saya malah lahir di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.

Gorontalo, merupakan daerah dengan pengaruh budaya Islam yang sangat kuat. Kultur ke-Islaman sangat kental pada kehidupan keseharian orang Gorontalo. Alhasil, keberadaan kaum Nasrani di Gorontalo seperti kami, merupakan minoritas. Hampir semuanya merupakan pendatang. Termasuk kami yang ada di Bulontio. Di dua desa itu, terdapat tidak lebih dari 10 kepala keluarga Kristen. Semuanya pendatang.

Kami tidak bisa membangun Gereja. Karena Pendetapun tidak ada. Jika hari Minggu tiba, kami beribadah di rumah. Rumah tempat saya dan keenam kakak adik saya tinggal. Sebuah rumah pinjaman berbentuk panggung peninggalan Belanda yang cukup besar. Ruang tamunya cukup menampung umat yang memang hanya sedikit itu. Ibadah dipimpin oleh seorang Guru Injil. Pendeta dari Sinode, hanya setahun sekali datang berkunjung.

Harmonisasi yang Indah

Keberadaan kami yang minoritas itu, seingat saya tidak pernah sekalipun mendapat tentangan dari masyarakat mayoritas. Kami malah bergaul dan bermasyarakat dengan sangat baik. Teman-teman masa kecil saya, semuanya Muslim. Bahkan, saya bisa bilang saya tumbuh besar di tengah-tengah kulturIslam dan budaya Gorontalo.

Peribadatan rutin kami semua berjalan lancar, tanpa sekalipun ada gejolak. Jika Natal menjelang, kami merayakannya dengan cara yang unik tetap indah. Kenangan saya malam ini berkelana pada perayaan Natal itu.

Kami biasanya merayakan Natal, tepat pada 24 Desember malam. Perayaannya tidak dilakukan di rumah, tetapi di gedung sekolah atau di balai desa. Ya, walau kami tidak sampai 10 rumah tangga, tapi perlu ruangan yang besar. Karena panitia perayaan mengundang tokoh masyarakat, tokoh agama dan orang-orang yang dianggap perlu diundang. Dari dua desa itu. Undangannya bisa lebih dari 200 orang. Semuanya kaum Muslim.

Yang indah, mereka semua datang menghadiri. Bahkan, yang tak diundangpun datang menyaksikan perayaan Natal tersebut, kendati harus berada di luar gedung. Lalu kami yang Nasrani itupun melakukan prosesi perayaan Natal. Menyanyikan kidung, membacakan puisi, menampilkan fragmen, mengulang kisah Palungan, menyalakan lilin di sekitar Pohon Natal. Pohonnya bukan plastik, tetapi pohon asli, yang dihiasi dengan kertas-kertas berwarna-warni. Dan beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama yang terundang, turut mendapat giliran menyalakan lilin.

Prosesi diakhiri dengan sambutan-sambutan. Semua pihak mendapat jatah sambutan. Camat, Tokoh Agama, Guru Injil bergantian menyampaikan wejangan pentingnya menjaga keharmonisan. Dan setelah itu kami berbaur dalam ramah tamah. Semuanya mendapat minum dan makan kue. Bukan hanya undangan, bahkan yang diluar gedungpun mendapat sajian. Dan kamipun bermalam Natal diantara kaum muslim yang datang dengan pakaian rapih dan berkopiah.

Keesokkan harinya. Malam, 25 Desember, giliran pintu-pintu rumah kami dibuka lebar-lebar. Karena nyaris semua penduduk dari dua desa itu akan bersilahturami ke rumah kami yang Nasrani. Saya ingat betul, bagaimana teman-teman kakak saya yang Muslim itu harus membantu di dapur melayani tamu yang datang. Tanpa putus hingga pukul 1 tengah malam. Kue di toples pasti ludes. Nasi Jaha tidak bersisa, Minuman “orson” pasti habis. Ibu saya memang sudah harus buat persiapan begitu memasuki bulan Desember.

Dan keindahan kebersamaan yang harmoni itu tidak berhenti disitu. Jika Idul Fitri tiba, giliran betis kami yang pegal. Karena kami harus membalas silahturami mereka yang Muslim itu. Kami menyambangi semua rumah penduduk Muslim di dua desa itu, tanpa kecuali. Tepat pada Malam Idul Fitri. Saya dan adik, yang paling sering diajak ayah dan ibu bersalam-salaman dari satu rumah ke rumah lainnya.

Kini, saya telah berada jauh dari Bulontio. Hidup ditengah-tengah mayoritas Kaum Nasrani. Kota Manado, yang perlahan telah menjelma menjadi metropolitan. Malam ini, malam Natal. Saya malah merindukan suasana 25-30 tahun lalu. Bulontio jelas telah berubah. Gorontalo telah menjadi sebuah provinsi, lepas dari Sulawesi Utara. Tapi saya yakin keharmonisan dan keindahan kebersamaan dalam toleransi itu masih tetap ada.

Selamat Natal.