Tag

, , ,

Saya memang suka menulis. Sejak dari SD kelas 5 saya sudah suka corat coret. Sebatas puisi memang. Sewaktu SMA di Gorontalo, kegilaan menulis saya memuncak, karena waktu itu sebagai Pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) saya diberi tanggungjawab mengurus Majalah Dinding. Nyaris setiap hari saya menghasilkan sebuah tulisan. Senang rasanya melihat siswa lainnya, rela menengadahkan kepala mereka ke Majalah Dinding yang tergantung, hanya untuk mengikuti Cerita Bersambung yang saya rilis setiap 3 hari.

Sewaktu pindah SMA di Ambon, saya sudah menulis puisi panjang mengenai budaya Pela Gandong, jauh sebelum kerusuhan Ambon berlangsung.  Sayang puisi yang dipesan oleh seorang Suster di Keuskupan Ambon itu tidak terasip. Hilang bersama ratusan puisi yang saya hasilkan sewaktu setahun tinggal di Ambon. Persis sama dengan beberapa buku dan lembaran-lembaran hasil tulisan saya sewaktu di Gorontalo dulu. Semuanya hilang tak berbekas. Menyesal juga, dulunya sewaktu masih remaja tidak memahami betapa pentingnya mengarsipkan buah pikiran.

Ketika pindah SMA di Manado, (saya menyelesaikan SMA di tiga kota berbeda) tulisan-tulisan saya bahkan sudah sering dimuat di Harian Lokal. Baik itu berupa puisi, cerpen bahkan opini. Kliping tulisan-tulisan itu masih saya simpan sampai sekarang. Kadang saya suka bernostalgia dengan membaca kembali kliping-kliping itu. Masa produktif saya ketika itu pada tahun 1993-1995. Setiap hari rata-rata menghasilkan 3-4 tulisan.

Online

Dulu saya menulis dengan tangan dan pena, lalu menyalinnya dengan mesin tik pinjaman ketika harus mengirimkannya ke redaktur media cetak. Tetapi, ketika seorang teman sudi meminjamkan mesin tiknya selama beberapa bulan, saya sempat menjilid beberapa kumpulan puisi yang sudah rapih dengan huruf mesin tik. Selebihnya masih tulisan tangan. Termasuk sebuah buku tulis yang berisi goresan tangan sewaktu 7 bulan berada dalam sel Lembaga Pemasyarakatan. Saya pernah dipenjara, itu cerita lain.

Ketika mengenal komputer, nyaris saya malas menulis dengan tangan. Dan ironinya, kemudahan mengetik dengan keyboard itu justru sempat melunturkan produktifitas saya dalam menulis. Karena kalau tidak ada komputer, saya tidak semangat menulis. Dulu, saya menyewa komputer untuk menulis.

Tahun 2008 saya ikut-ikutan membuat blog. Dunia baru saya temukan. Sebab tanpa harus mengirim ke redaktur, tulisan bisa seketika terposting. Hanya satu yang menghambat, ketika itu koneksi internet masih sangat susah. Harus ke warnet. Dari blog yang beralamat di http://www.sitaro.wordpress.com itu saya mengenal banyak orang. Termasuk bertemu sosok Wilson Lalengke yang mengenalkan saya konsep Citizen Journalism.

Konsep Pewarta Warga itu memperkenalkan saya gaya menulis reportase tanpa harus jadi wartawan. Jadilah Blog Pribadi saya itu, pada 2 tahun pertamanya penuh dengan tulisan reportase (banyak yang sudah dihapus, karena kapasitas yang terbatas). Dengan tulisan reportase, yang aktual dan langsung dari lokasi serta sumbernya, saya semakin banyak mengenal orang. Saya sering dihubungi oleh redaktur media mainstream untuk mengkonfirmasi berita dan informasi. Bahkan beberapa kali saya menjadi nara sumber mereka, dan tak jarang menemani reporter mereka ketika turun ke lokasi kejadian. Semuanya karena saya menulis secara online.

Dari blog itu juga, saya kini menjadi Ghost Writer untuk beberapa situs pribadi. Bahkan ada 3 merupakan situs organisasi massa. Menjadi seorang Ghost Writer merupakan seni tersendiri. Saya harus menulis dari prespektif mereka. Tetapi dengan begitu, saya menjadi sangat produktif. Saat sekarang, dalam seminggu rata-rata saya harus menghasilkan 25-30 tulisan. Nyaris, itu menyita waktu saya. Dan blog pribadi saya itu, sudah sangat jarang saya update.

Dapat Duit

Menjadi Ghost Writer disamping mengasah terus kemampuan kita dalam menulis, juga merupakan sumber penghasilan. Saya dibayar untuk semua tulisan itu. Perhitungan pembayarannya berbeda-beda. Ada yang menghitungnya setiap tulisan, ada yang membayar sesuai jumlah kata, dan ada yang mengontrak saya untuk jangka waktu tertentu.

Februari 2011, saya ikut membuka account di Kompasiana. Tujuan utama sebenarnya adalah, mempublish tulisan-tulisan sastra saya. Puisi dan cerpen. Tetapi ketika pada postingan ketiga, yang berisi reportase hunting foto bersama teman-teman, saya publish dan menjadi HL, saya terpacu untuk mempublish tulisan-tulisan reportase di Kompasiana. Kebetulan saya juga senang fotografi dan suka jalan-jalan.

Saya baru mengirimkan 50-an tulisan di Kompasiana, 14 diantaranya malah puisi. Sudah 6 tulisan yang menjadi HL. Semuanya tulisan reportase. Dua diantaranya bahkan ditulis kembali oleh bang Pepih Nugraha untuk tampil di halaman Kompas.Com, yakni sebuah tulisan reportase penjualan secara bebas Penyu yang dilindungi di Talaud, dan satu lagi reportase Danau Limboto yang terancam kering.

28 November 2011, ketika saya membuka email, ada sebuah inbox masuk. Pengirimnya, Pengelola Kompasiana. Isinya membuat saya sedikit terkejut, “Selamat. Tulisan Anda dimuat di lembar Kompasiana Freez, Harian Kompas edisi Kamis ini, 24 November 2011. 
Berkenaan dengan itu, kami membutuhkan nomor rekening Anda dan NPWP (jika ada) untuk keperluan transfer honorarium. Kami tunggu informasinya dalam waktu dekat. Terima kasih, Admin Kompasiana”

Saya tidak tahu tulisan mana yang dipilih. Sebab saya terlambat membuka email. Sampai ketika honorarium itu sudah masuk ke rekening, saya belum tahu tulisan mana yang dibayar untuk naik cetak di Halaman Kompasiana Freeze Harian Kompas, edisi 24 November itu. Beruntunglah ada teman yang berlangganan harian Kompas. Dan beberapa hari lalu, kami menemukan edisi yang dimaksud. Ternyata, tulisan reportase saya dari sebuah Kampung di Kabupaten Sangihe menarik Redaktur Kompasiana. Tulisan itu berupa Pelajaran Ekstrakurikuler sebuah SMP di Desa Laine, Kecamatan Manganitu Selatan yang oleh guru mereka diisi dengan kegiatan menanam padi.

Senang rasanya tulisan yang sekedar postingan di Kompasiana itu bisa diketahui seluruh pembaca Harian Kompas seantero Nusantara. Lebih senang lagi, lewat tulisan yang menjadi HL sebelumnya tersebut, dapat menyebarkan nilai-nilai persahabatan dengan alam dan lingkungan, ditengah-tengah tekanan kehidupan modernisasi yang semakin merengsek masuk ke pelosok-pelosok perdesaan.

Ayo menulis.