Tag

, , , , , , ,

4R Bunyi putaran kincir air di sebuah bangunan sangat sederhana mengusik Tim 12 Days Exploratory Photo Expedition ketika tiba di Desa Mengkang. Tanpa dikomando dan beristirahat, Tim yang menggunakan 4 mobil dari Manado dengan jarak tempuh sekitar 5 jam langsung menuju sumber bunyi tersebut.

Rasa ingin tahu anggota Tim Berburu Foto 12 Hari di 5 Kabupaten Sulawesi Utara itu, akhirnya terjawab. Ternyata kincir air itu merupakan bagian dari Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Tidak ada yang istimewa dari pembangkit listrik tersebut. Tetapi yang mengugah adalah, bahwa PLTMH yang berkapasitas 10.000 watt tersebut merupakan inisiatif murni dari masyarakat desa Mengkang.

Desa Mengkang merupakan salah satu desa di Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Desa ini menjadi penting letaknya karena berada di tengah-tengah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Taman Nasional yang berada di dua Provinsi tersebut, yakni Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki luas wilayah 287.115 hektar, dengan 62,32% berada di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow bagian Timur.

Infrastruktur jalan akses menuju Mengkang masih sangat memprihatinkan. Setelah melewati Desa Mopusi, dua sungai berbatu menanti untuk diseberangi. Kondisi ini menjadikan suplai listrik ke Desa Mengkang belum menjadi prioritas dari PLN, buktinya sampai dengan kunjungan Tim 12 Days Exploratory Photo Expepedition pada 15 November 2011, Desa Mengkang belum terjamah jaringan listrik PLN.

ADA AIR LISTRIK PUN JADI

Tak tahan dengan kondisi gelap gulita setiap malam, Marsidi Kadengkang, sebagai Sangadi (sebutan untuk jabatan Kepala Desa di Bolaang Mongondow) enam tahun lalu berinisiatif menggerakkan warga membangun instalasi listrik sendiri. Pasokan air yang melimpah dari sungai yang ada, menjadi ide awal. Dari urung rembuk, sepakatlah warga desa membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro.

Lalu dengan biaya dan tenaga yang disumbangkan seluruh masyarakat desa, akhirnya mereka berhasil membangun satu instalasi listrik dari energi yang terbarukan. Tanpa bahan bakar minyak, tanpa biaya produksi yang mahal dan pemeliharaan mesin yang relatif mudah dan tanpa bantuan dari Pemerintah Daerah serta PLN.

Dan sejak itu pula, 60 rumah tangga di Desa Mengkang bisa menikmati malam mereka dengan cahaya yang dihasilkan dari energi air. “Kami memberi jatah masing-masing rumah 150 watt. Cukuplah untuk penerangan di malam hari,”  Tae Kunsi salah seorang pengelola PLTMH memberi penjelasan.  Lelaki paruh baya yang semangat ini menambahkan, “kini warga desa tetap bisa beraktivitas di malam hari, setelah siang hari turun di sawah dan kebun. Mereka bisa membuat anyaman tikar, mengerjakan pekerjaan tangan yang bisa dijual. Semuanya karena listrik dari kincir ini.”

Apa yang tersaji di Desa Mengkang, merupakan contoh yang patut diberi apresiasi. Tanpa mereka sadari, PLTMH yang mereka bangun secara swadaya tersebut, merupakan salah satu jawaban dari krisis pasokan listrik di negeri ini. Salah satu peserta Photo Expedition, Wena Regar memberi komentar. “di Manado listrik tiap saat padam, di Mengkang mereka menikmatinya tanpa harus takut kehabisan stock BBM,” katanya kagum.

PNPM-LMP

Dengan pasokan listrik 150 watt disetiap rumah, Pengelola PLTMH hanya membebankan Rp. 10.000 setiap bulannya. “Cukup untuk biaya pemeliharaan saja,” terang Tae Kunsi. Apa yang dilakukan oleh masyarakat desa dengan pembangkit listrik ini membuat pihak PNPM-LMP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Lestari Mandiri Perdesaan) tergerak untuk membantu. Tercatat sudah dua kali PNPM-LMP mengucurkan dana. “Yang pertama 49 juta dan untuk tahun 2011 ini ada 29 juta,” jelas Mohamad Taufiq Soleman, Specialis Energi Terbarukan PNPM-LMP Sulawesi Uta.

"Apa yang dilakukan masyarakat Desa Mengkang dengan PLTMH ini, patut menjadi contoh bagi masyarakat lain. Mereka memanfaatkan energi terbarukan untuk menerangi desa mereka. Hal itu sejalan dengan program PNPM-LMP,” jelasnya lagi ketika mendampingi Tim 12 Days Explotaroty Photo Expedition mengambil gambar.

Kini mereka sedang mendirikan tiang-tiang untuk jaringan instalasinya. Dulunya kabel distribusi ke rumah-rumah hanya disangah tiang bambu. Keberhasilan PLTMH Desa Mengkang selama 6 tahun beroperasi tanpa kendala, telah menggerakan berbagai pihak untuk membantu. Satu pembangkit listrik lagi sedang dibangun, dengan sokongan dari Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Jika PLTMH kedua itu telah beroperasi, maka jatah per rumah tangga bisa tiga kali lipat, dan dinamika kehidupan masyarakat Desa Mengkang pun akan semakin baik.

Sebuah pelajaran berharga dari kearifan lokal, dalam perjalanan berburu foto selama 12 hari.