Tag

, , ,

Sumber: http://www.vsi.esdm.go.id/

Guguran LavaHasil evaluasi kegiatan G. Karangetang di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara sebagai berikut;

I. PENDAHULUAN

Gunungapi Karangetang yang dikenal juga sebagai G. Api Siau merupakan sebuah pulau gunungapi dan  berada di bagian utara P. Siau termasuk kedalam Kabupaten Sitaro yang berjarak sekitar 146 km dari kota Manado. Secara geografis G. Karangetang terletak pada posisi 02047’ Lintang Utara dan 125029’ Bujur Timut, dengan tinggi puncak sekitar 1827 m di atas permukaan laut. Gunungapi tersebut dipantau secara menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Salili.

Sejak 18 Maret 2011 kegiatan G. Karangetang mengalami peningkatan status dari SIAGA (Level III) menjadi  AWAS (Level IV) didasarkan pada peningkatan aktivitas secara visual, kegempaan dan potensi ancaman bahaya yang tinggi dari kejadian awan panas guguran terhadap masyarakat yang berada di lereng G. Karangetang bagian barat.

II. KEGEMPAAN

Aktivitas kegempaan G. Karangetang dari tanggal 18 hingga 23 Maret 2011 adalah sebagai berikut .

  • Tanggal 18 Maret 2011, terekam 47 kali gempa guguran, 1 kali gempa Fase Banyak, 7 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 4 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 0.5 – 14 mm, dan 21 kali gempa Awan Panas Guguran.
  • Tanggal 19 Maret 2011, terekam 2 kali gempa hembusan, 52 kali gempa guguran, 5 kali gempa Fase Banyak, 13 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 4 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 3 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 0.5 mm dan 19 kali gempa Awan Panas Guguran,
  • Tanggal 20 Maret 2011, terekam 1 kali gempa Hembusan, 27 kali gempa Guguran, 5 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 3 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 1 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), dan getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 0.5 – 50 mm.
  • Tanggal 21 Maret 2011, terekam 11 kali gempa Guguran, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), dan getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 0. 5 – 50 mm.
  • Tanggal 22 Maret 2011, terekam 31 kali gempa Guguran, 4 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 3 kali gempa Tektonik Lokal (TL) dan getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 0.5 – 25 mm.
  • Tanggal 23 Maret 2011, hingga pukul 12:00 WITA, Terekam 41 kali gempa Guguran, getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 10 – 51 mm (dominan 25 mm), tremor harmonik dengan amplituda maksimum 5 – 45 (dominan 15). 2 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda maksimum 3 mm, lama gempa 2.5 detik. 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 20 mm, S-P 0.5 detiklama gempa 2.5 detik 1 kali gempa Fase Banyak (FB) dengan amplituda maksimum 10 mm, lama gempa 15 detik
  • Tanggal 24 Maret 2011, Terekam 17 kali gempa Guguran dengan amplituda maksimum 4 mm, lama gempa 45 detik. 6 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda maksimum 2 mm, lama gempa 5 detik. 2 kali gempa Fase Banyak (FB) dengan amplituda maksimum 10 mm, lama gempa 15 detik. 3 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), dengan amplituda maksimum 50 mm, lama gempa 75 detik. 1 kali gempa Hembusan dengan amplituda maksimum 4 mm, lama gempa 20 detik. getaran tremor vulkanik dengan amplituda maksimum 3 – 45 mm (dominan 20 mm),

III. VISUAL

IMG_3954Keadaan cuaca di sekitar Pos Pengamatan Gunungapi Karangetang selama 18 – 24 Maret 2011 umumnya mendung hingga hujan deras. Angin umumnya bertiup berubah-ubah arah dengan kecepatan lemah hingga kencang. Hasil pengamatan visual sejak tanggal 18 – 24 Maret 2011 adalah sebagai berikut:

  • Tanggal 18 Maret 2011, di Kawah Utama teramati hembusan asap putih sedang hingga tebal dengan tinggi asap lk. 50 – 200 meter. Aktivitas di Kawah Dua umumnya berupa hembusan asap putih tipis dengan tinggi asap sekitar 50 meter di atas puncak kawah. Leleran lava  ke Kali Nanitu sejauh lk. 1500 – 1800 m, dari ujung leleran lava sering terjadi guguran lava pijar ke Kali Nanitu, Kali Pangi sejauh lk. 500 – 2000 m. Guguran lava pijar dari puncak terjadi ke Kali Beha Barat sejauh kl. 1500 m. Awan panas guguran terjadi ke Kali Pangi hingga laut, Kali Sesepe/Nanitu dan Kali Sense hingga mencapai laut sehingga mengakibatkan 1 rumah hancur, 2 rumah rusak serta gereja, jembatan Kali Pangi (baru dibangun) hancur. Suara gemuruh terdengar lemah.
  • Tanggal 19 Maret 2011, di Kawah Utama teramati hembusan asap putih sedang dengan tinggi asap sekitar 250 meter. Sinar api samar-samar dan sesekali tampak jelas dengan tinggi sekitar 10 m. Leleran lava di puncak G. Karangetang terus terjadi ke Kali Nanitu sejauh lk. 2000 m dan menumpuk, pada ujung leleran sering terjadi guguran ke Kali  Nanitu dan Kali Pangi sejauh lk. 500 m, kadang mengakibatkan awan panas guguran yang meluncur sejauh 2500. Guguran lava dari puncak terjadi ke Kali Nanitu, Kali Pangi dan Kali Beha Barat sejauh 1500 meter.
  • Tanggal 20 Maret 2011, di Kawah Utama teramati hembusan asap putih sedang – tebal tinggi asap sekitar 750 meter. Sinar api samar-samar dan sesekali tampak jelas dengan tinggi sekitar 10 m. Leleran lava pijar ke Kali Nanitu sejauh lk. 500 m dari puncak. Pada ujung leleran masih terjadi guguran lava pijar ke Kali Nanitu sejauh 800 – 1750 meter. Pada pukul 06:25 WITA terjadi lahar di Kali Pangi, dan pukul 07:22 WITA di Kali Batuawang.
  • Tanggal 21 Maret 2011, di Kawah Utama teramati hembusan asap putih sedang dengan tinggi asap sekitar 500 meter. Sinar api tinggi lk 50 – 75 m. Guguran lava dari puncak terjadi ke Kali Nanitu sejauh 1000 m. Leleran lava pijar masih terjadi ke Kali Nanitu sejauh 500 – 1500 meter, dari ujung leleran terjadi guguran lava sejauh 150 meter.
  • Tanggal 22 Maret 2011, di Kawah Utama teramati hembusan asap putih kebiruan tipis – sedang dengan tinggi sekitar 50 – 400 meter. Sinar api tampak jelas dengan tinggi sekitar 50 – 75 m. Guguran lava dari puncak terjadi ke Kali Nanitu sejauh 500 – 1000 m. Leleran lava pijar masih terjadi ke Kali Nanitu sejauh 500 – 1900 meter, dari ujung leleran terjadi guguran lava sejauh 100 – 300 meter. Suara gemuruh terdengar satu kali lemah.
  • Tanggal 23 Maret 2011, di Kawah Utama teramati hembusan asap putih sedang dengan tinggi asap sekitar 100 meter. Sinar api tampak jelas dengan tinggi sekitar 75 m.Terjadi leleran lava ke Kali Nanitu sejauh 2000 meter dari puncak, dari ujung leleran sesekali terjadi guguran  lava ke Kali Nanitu dan Kali Sense sejauh 200 – 250 meter. Guguran Lava ke Kali Nanitu dan Pangi sejauh 1500 meter, serta ke Kali Beha Barat sejauh 500 meter dari puncak. Suara gemuruh lemah – kuat sering terdengar. Sejak pukul 19:00 – 24:00 WITA, leleran lava mulai berkurang hanya terdapat 3 titik lokasi lava pijar di Kali Nanitu dengan jarak masing-masing 600, 1000 dan 1500 meter dari puncak, Guguran sudah jarang terjadi umumnya pada titik lokasi 1500 m 1 kali kejadian ke Kali Nanitu sejauh lk. 100 m.
  • Tanggal 24 Maret 2011, Lava pijar masih teramati di Kali Nanitu dan bertumpuk pada jarak 600 dan 1500 meter dari puncak, pada ujung tumpukan lava pijar masih sering terjadi guguran lava pijar ke Kali Nanitu dan Kali Sense sejauh 200 – 500 m. Sinar api teramati tinggi 75 m.

IV. DEFORMASI

Dari hasil pengamatan deformasi dengan metoda EDM (Electronic Distance Measurement) yang dilakukan sejak tanggal 13 Maret 2011 hingga tanggal 24 Maret 2011 dengan melakukan tiga kali pengukuran perhari, yaitu; pagi, siang dan sore. Hasil dari tiga kali pengukuran perhari ini menunjukkan data deformasi yang berfluktuatif dengan kecenderungan adanya inflasi pada tanggal 18 – 22 Maret 2011 dan deflasi pada tanggal 23 – 24 Maret 2011.

V. POTENSI BAHAYA

Gunungapi Karangetang merupakan gunungapi paling aktif di Indonesia dengan seringnya mengalami kejadian erupsi setiap tahun. Karakteristik erupsinya  berupa erupsi eksplosif tipe tinggi karena pulau Gunungapi memiliki jarak antara batas pantai dengan pusat erupsi hanya lebih kurang 4 Km yang di dalamnya terdapat banyak pemukiman

Kejadian erupsi terakhir pada 6 Agustus 2010 telah menyebabkan 4 korban jiwa yang diakibatkan oleh awan panas guguran dari kubah lava yang terjadi  secara tiba – tiba pada malam hari. Kejadian ini mengawali arah aktivitas vulkanik yang terjadi pada tahun 2011, yaitu mulai mengarah kembali kea rah barat.

Leleran lava yang terjadi sejak tanggal 11 Maret 2011 mengalir ke arah Kali nanitu, pada aliran lava saat mencapai jarak 1500 meter dari puncak mulai menampakkan aktivitas awan panas guguran dengan jarak luncur 200 – 500 meter dari ujung leleran. Saat aliran lava bergerak menuju jarak 2000 meter dari puncak telah terjadi beberapa kali awan panas guguran dengan jarak luncur antara 500 – 2000 meter dari ujung leleran. Pada ujung aliran lava ini juga membentuk undakan (tumpukan) setinggi sekitar 50 m.

Mulai tanggal 20 Maret 2011 pukul 23:00 WITA teramati aliran lava baru dari puncak yang mengalir di atas aliran lava pertama yang terbentuk sejak 11 Maret. Aliran lava baru ini bergerak relatif cepat dan mencapai jarak 1750 meter dari puncak pada 22 Maret 2011 pukul 03:00 WITA, pada pukul 18:00 WITA sudah mencapai jarak 2000 meter dari puncak (ketinggian 700 m dpl) atau mencapai jarak yang sama dengan aliran lava pertama. Pada 24 Maret 2011 hingga pukul 06:00 WITA lava pijar yang berada di Kali Nanitu sudah tidak membara lagi, serta guguran lava jarang terjadi lagi. Pukul 17:50 WITA dan 23:45 WITA  teramati leleran lava ke Kali Nanitu mencapai jrak 600 m dan 1500 m, kejadian guguran lava pijar dan awan panas guguran sudah berkurang, namun harus tetap diwaspadai kemungkinan terjadinya awan panas guguran dari ujung leleran lava.

VI. KESIMPULAN

1.   Pemantauan secara visual dan peralatan ThermaCam menunjukkan terjadi penurunan laju penambahan aliran lava baru dari Kawah Utama secara signifikan, demikian juga halnya dengan kejadian awan panas sudah tidak teramati sejak tanggal 20 Maret 2011;

2.   Berdasarkan hasil analisa data visual, kegempaan, dan deformasi hingga tanggal 24 Maret 2011 pukul 24:00 WITA,  aktivitas vulkanik Gunungapi Karangetang mengalami penurunan secara signifikan; maka tingkat kegiatan G. Karangetang diturunkan dari status AWAS (Level IV) menjadi SIAGA (Level III) terhitung tanggal 25 Maret 2011 pukul 18:30 WITA.

Pemantauan secara intensif tetap dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Karangetang dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Daerah (Satlak PB dan Satkorlak PB) setempat. Status kegiatan G. Karangetang akan diturunkan/dinaikkan kembali jika terjadi penurunan/ peningkatan aktivitas vulkanik.

VII. REKOMENDASI

Sehubungan dengan status G. Karanegatang dalam keadaan SIAGA (Level III), maka direkomendasikan :

1.    Penduduk di sekitar lereng G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak G. Karangetang;

2.    Mewaspadai luncuran awan panas dan guguran lava pijar yang dapat terjadi setiap saat pada lembah sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang, terutama ke Kali Nanitu, Kali Pangi, Kali Sense dan Kali Beha Barat;

3.    Penduduk yang berada di Desa Kinali (khususnya yang bermukim di : Sumelee, Lingarang, Lantung dan Batuloso jumlah 49 jiwa), Desa Winangun (khususnya yang bermukim di Kawowase, Bahu, dan Kawuse jumlah 41jiwa) dan Desa Mini (khususnya yang bermukim di : Bowongpana jumlah 30 jiwa) agar tetap berada di tempat evakuasi /tempat yang aman;

4.    Penduduk yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang selama musim hujan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan dan banjir bandang;

5.    Masyarakat di sekitar G. Karangetang diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Karangetang dan selalu mengikuti arahan dari BPBD Kabupaten Sitaro. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (Badan Geologi) selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.dan Pemerintah Kabupaten Sitaro  tentang aktivitas G. Karangetang;

6.    Jika terjadi hujan abu cukup deras, direkomendasikan masyarakat menggunakan masker penutup hidung dan mulut, karena abu Vulkanik yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan;

7.    Pemerintah Daerah senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Karangetang di Desa Salili, Kecamatan Siau Tengah, Kabupaten Sitaro atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.