Tag

, , ,

Musuh bubuyutan dari leluhur orang Sangihe Talaude adalah bajak-bajak laut dari Kepl. Sulu. Kira-kira abad ke-14 Datu dari Kepl. Sulu bernama Hontontundali alias Himbawo I, singgah di Pulau Sulu memaksa orang-orang Siau untuk mengawalnya ke pulau Bukidé-Tabukan, berkehendak memboyong putri Sangiang Nilighidé yang termasyhur kecantikannya sampai di pulau-pulau Sulu waktu itu. Memboyong wanita dengan tidak melalui cara yang diadatkan, berarti memancing pertumpahan darah, sehingga dengan kegigihan para pengawal Sangiang nilighidé di bawah koordinasi pendekar bernama Sagheghe, sebagian besar para pengawal Datu Himbawo I, dapat dihancurkan di Pulau Bukidé.

Kehancuran tersebut terungkap dalam jawaban pria bernama Limbe yang ditegur oleh Datu Himbawo I, yang lari dari gelanggang pertempuran dengan jawaban: “Baļine tutaļang na taku timagunggi négiantang, kai tutaļang ma uļi tagunggi méléhabaré. U rala kante masue e kurai mataļente e, dala masu e su moļe mataļente su wahani. Ku dala su ļengeh’u Wukidé su lewa eng Kaderotang, taļowang kere iladé kere sarésaļ’u pato, séngga pinangémbo ténda pinénawau palawa.” Terjemahan bebasnya kira-kira: “Saya bukannya takut, lalu bergegas lari, tapi saya bergegas memberi tahu dan membawa berita. Sebab teman makin kurang dan kawan-kawan hampir musnah, digulung si pemberani di tetak oleh pendekar. Dilereng gunung sana yang dibawah perbukitan, mayatpun bergelimpangan persis kayu dihamparkan, lainnya dibuat pagar meneguhkan perkubuan.”

Ditahap pertama ini Datu Himbawo I gagal total dan pulang. Dalam tahap ke-2 Himbawo I datang ulang ke Pulau Bukidé dengan anak buah lebih banyak lagi dan pertempuran jauh lebih hebat dari dahulu. Pendekar Sagheghe gugur, sehingga Sangiang nilighidé dapat dibawa ke Siau, tapi segera dapat diselamatkan oleh kakaknya Daļinsahé dengan Araro dan dibawa kembali ke Pulau Bukidé. Nanti pada tahap ke-3 Datu Himbawo I datang meminang sebagai yang diadatkan, barulah pinangan diterima.

Hinbawo I beristrikan Sangiang nilighidé dan mempunyai anak perempuan, Umbongduata namanya. Umbongduata ini jadi salah satu isteri dari Datuk Pahawonsulugé, lalu mempunai anak Lokonbanua II pendiri kedatuan Siau tahun 1510 dengan pusat pemerintahan di Katutungan (sekarang bernama Paseng, masuk dalam wilayah Kecamatan Siau Barat).

Berikutnya serangan orang dari Kepl. Sulu paling besar, terjadi pada tahun 1591, yang terdiri dari pasukan besar. Sebuah pasukan menyerang Siau dibawah pimpinan pendekar Liungseke, dan satu pasukan menyerang Kéndahé, dibawah pimpinan laksamana Antik. Dalam penyerangan ke Siau, pendekar Siau bernama Salawo tewas, akibatnya mulai dari Ondong sampai Katutungan rumah-rumah dibumihanguskan oleh bajak-bajak laut Sulu. Putra-putri cilik keluarga raja (Uto Nanding, Tukunang dan Pahawuateng), ditawan ke Mindanao. Dan nanti setelah Katiandagho raja Manganitu ke-7 yang dapat memerdekakan ketiganya, atas permintaan dari Ismael Jacobus Mehengkelangi raja Siau.

Tapi pasukan Antik, gagal total menyerang Kéndahé. Pendekar tiga beradik dari Sawang, datang mempertahankan martabat Kéndahé, melayani tamu yang tidak diundang itu, mereka adalah: Sasamu, Kantohe dan Papétangpulu.  Ketiganya melawan penyerang di pantai yang sampai sekarang disebut “Tiladé", sebelah Selatan dari kampung Kéndahé sekarang. Sebagian besar penyerang termasuk Laksamana Antik tewas disitu; setelah air pasang naik, mayat-mayat orang Sulu hanyut dibawa arus Utara, lalu semuanya terdampar dipantai, yang sampai kini disebut pantai “Lélade” sebelah Utara Kampung Kéndahé.

Sisa pasukan Antik mundur jauh ke laut, menyusun kembali strategi penyerangan dibawah pimpinan Abung, lalu datang menyerang Kolongan. Di Kolongan, Abung dapat ditewaskan pula oleh Mangénsihi pendekar Kolongan. Jasad Abung oleh Mangénsihi dibelah diatas sebuah batu di tepi pantai, dan sampai sekarang batu tersebut dinamakan Batuwakesé, yang berada di pantai Kolongan Mitung sekarang. Pasukan Abung hanya beberapa orang saja yang dibiarkan hidup, untuk nantinya memberitahukan kekalahan yang diderita, bagi keluarga-keluarga mereka yang berada disana.