Tag

, ,

Berikut kami paparkan proposal dari Max Sudirno Kaghoo, dkk yang berencana mengelar Diskusi mengenai perkembangan pembangunan di Kab. Kepl. Sitaro. Untuk  informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Bung Dirno di: kdirno@yahoo.com, cell: 081340445645, 043186555, facebook: http://www.facebook.com/profile.php?v=info&id=100000081065460

 

Term Of Refference
FOCUS GROUP DISSCUSION
SITARO: MASA LALU, MASA KINI DAN MASA DEPAN

A. LATAR BELAKANG

Pengkajian tentang pembangunan di Kabupaten Sitaro telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Setiap upaya pengkajian tersebut menghasilkan berbagai rekomendasi yang kini sedang dikerjakan oleh pemerintah dan masyarakat Sitaro. Meskipun beberapa kendala masih saja sering terjadi. Penelusuran sejarah kabupaten kepulauan Sitaro jauh kebelakang, analisa kondisi dan situasi dewasa ini serta interpretasi mengenai masa depan kabupaten yang baru mekar ini, menjadi penting dibicarakan guna menemukan pola pembangunan yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik daerah.

Dalam menyusun kebutuhan semacam itu mutlak dipahami secara detil aspek historis, aspek kekinian dan aspek pengembangan untuk masa depan daerah. Dalam ketiga aspek waktu tersebut semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan serta perilaku masyarakat yang terbuka terhadap perubahan, semangat otonomi yang sejak dahulu kala hidup dalam masyarakat kedatuan serta nilai-nilai yang telah mengakar sedemikian rupa, menjadi modal sosial yang sangat strategis guna diberdayakan dan ditingkatkan.

Kebutuhan mendasar seperti kebutuhan infrastruktur jalan, transportasi laut dan daratan, hingga masalah listerik dan air bersih, masih terus menjadi masalah yang sering dihadapi masyarakat. Jenis usaha dalam skala industri menengah ke atas maupun pada tataran industri rumah tangga, belum menunjukkan adanya dinamika yang signifikan, disebabkan oleh akumulasi persoalan-persoalan yang telah disebutkan di atas. Demikian pula iklim investasi yang kurang menunjang bagi terwujudnya kemaslahatan hidup bersama.

Ditelisik jauh kebelakang, sesungguhnya tatanan kehidupan bersama masyarakat dalam struktur sederhana pemerintahannya, telah mencatat waktu kurang lebih 500 tahun sejak terbentuknya Kedatuan Siau pada tahun 1510. Momentum ini menjadi sangat strategis dalam mendorong dan memaksimalkan semangat otonomi daerah. Sebaliknya gagalnya eksistensi kedatuan tersebut serta adanya peranan sejumlah tokoh pergerakan nasionalisme pada masa kebangkitan nasional menjadi bukti kesetiaan orang-orang Sitaro terhadap keutuhan NKRI. Selanjutnya, untuk menjawab apa keperluan Kabupaten Kepulauan Sitaro kedepan, maka sangat mendesak dirumuskan strategi yang lebih komprehensif melalui Focus Group Disscusion yang digagas oleh putra-putri Sitaro dalam kesempatan ini.

B. NAMA DAN TEMA KEGIATAN

Kegiatan ini disebut Focus Group Disscusion, yaitu diskusi dalam ruang lingkup yang lebih spesifik dan dilakukan pengkajian mendalam dengan jumlah peserta yang terbatas (maksimal 40 orang terpilih) tetapi memiliki kompetensi dan kapabilitas yang istimewa guna mengelaborasi masalah-masalah actual dan merumuskan point-point pokok sebagai elemen dasar terhadap upaya perumusan kebijakan pembangunan di masa yang akan datang.

Penelusuran berbagai permasalahan dalam ketiga rana ini serta upaya merumuskan strategi pembangunan di masa yang akan datang, semuanya diramu dalam satu tema utama yaitu: Sitaro: Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan.

C. INPUT DAN OUTPUT

a. Input:
FGD ini akan menghasilkan sumbangan pemikiran dari berbagai kalangan professional tentang berbagai informasi terkait aspek masa lalu dan aspek kekinian serta konstruksi pembangunan Kabupaten Kepulauan Sitaro di masa yang akan datang.

b. Output:
Hasil FGD ini dapat digunakan oleh pemerintah daerah sebagai salah satu referensi guna menyusun Rencana Pembangunan yang lebih memadai di masa yang akan datang. Selain itu dapat dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga non pemerintah dalam melakukan pekerjaan social.

D. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan ini akan dilaksanakan tanggal 22 April 2010 pukul 09.00 wita sampai pukul 18.00 wita di Aula Kantor Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara.

E. PELAKSANA DAN PESERTA KEGIATAN

1. Panitia Pelaksana
Panitia pelaksana kegiatan adalah mahasiswa pascasarjana UNSRAT Manado dan beberapa tokoh muda asal Sitaro dengan komposisi kepanitiaan sebagai berikut:
Ketua : Max Sudirno Kaghoo
Sekretaris : Lilly Djenaan
Notulensi : 1. Meidison Derek
: 2. Yessy Momongan
Seksi Dokumentasi : Hanny Palendeng
Seksi Konsumsi : Marjam Pontorondo
Seksi Transportasi : Markus Sombowadile
Editor Buku : Dolfie Angkow

2. Lembaga Mitra
Kegiatan FGD ini akan didukung oleh lembaga-lembaga mitra, antara lain:
1. Manado Post
2. Radar Manado
3. Posko Manado
4. Komentar
5. Tribun Manado
6. RRI Manado

3. Peserta
Berikut ini adalah peserta yang diusulkan sekaligus berperan sebagai narasumber dalam FGD ini, masing-masing dengan bidang kompetensi antara lain:

1 Dr. Alex Ulaen
2 Drs Jupiter Makasangkil
3 Drs H.R. Makagansa
4 Drs Eddy Humiang
5 Prof Dr. Ir. Berhimpon
6 Dr Ir. Frans Ijong
7 Prof. Dr. Ir. L.C. Mandey, MS
8 Kadis Pariwisata Sitaro
9 Drs Eddy Salindeho
10 Prof. J.W.P. Mandagie
11 Drs. Denny D. Kondoy, MSi
12 Paula Manginsela
13 Jul Takaliuang
14 Zeth Walo, S.Sos
15 Dandels
16 Dr. Wiesje Rompis
17 Dr. Ivone Bentelu
18 Jendral Jakobus
19 Kapolres Sitaro
20 Djibton Tamudia
21 Piet Kuera
22 Djauhari Kansil
23 Prof. Pasandaran
24 Kadis Pendidikan
25 Welly Sambalao
26 Johny Thamus
27 Ronny Buol
28 Mister Maru
29 Maxi Sidajang
30 Helfrit Lombo
31 ….. bisa diusulkan lagi

4. Moderator
Moderator yang memandu kegiatan yaitu:
a. Moderator 1: Iverdixon Tinungki
b. Moderator 2: Lily Djenaan
c. Moderator 3: Hetty Langkudi

F. TENTATIF MATERI DAN TAHAPAN KEGIATAN

a. Tentatif Materi

Materi yang akan dibahas dalam forum diskusi ini, dibagi dalam tiga segmentasi focus. Setiap focus tidak membahas secara parsial, tetapi penekanan paradigmanya diawali pada situasi dan kondisi dari tiga masa dan berujung pada sebuah penyimpulan yang bersifat informative, komprehensif dan solutif.
Ketiga segmentasi itu antara lain:

1. Sitaro Masa Lalu

Pada sesi ini peserta hendak mengeksplorasi nilai-nilai masa lalu yang dianggap masih relevan seperti misalnya nilai-nilai pada “masa kedatuan, masa colonial dan masa kebangkitan nasional” yang dipelopori oleh putra-putri terbaik Sitaro. Catatan historis tentang peranan Raja Lokongbanua pada tahun 1510 sebagai raja pertama yg kini di tahun 2010 dapat diperingati nilai historisnya sepanjang kurun waktu 500 tahun. Demikian juga Raja Winsulangi dan anaknya Raja Batahi, yang pernah bersekolah hingga perguruan tinggi di Philipina, serta sistem pemerintahan yang dibentuknya sebagai visi spektakuler yang perlu dilakukan pengkajian mendalam tentang rencana untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sitaro. Peranan Raja David Lemuel Ponto yang pertama kali memerintahkan rakyat untuk menanam pala serta menganjurkan masyarakat agar melakukan kearifan local seperti kebiasaan mengowe puru yang mungkin masih relevan dipertahankan atau sebaliknya diperlukan kebijakan baru untuk dihilangkan. Demikian pula upaya yang dilakukan oleh Raja Raramenusa yang membangun hubungan baik dengan kerajaan sekitar kala itu terutama dengan Kerajaan Tabukan.

Catatan lain tentang semangat pluralism yang pernah dilakukan oleh Raja Ponto yang kemudian ditangkap pihak Belanda dan diungsikan ke Pulau Jawa hingga catatan yang mendeskripsikan kebutuhan Portugis, Spanyol dan Belanda dalam melakukan hubungan dagang dengan raja-raja Siau dahulu kala. Selanjutnya catatan mengenai nilai nasionalisme yang dilakukan oleh para pejuang Siau, Kansil Cs menaikkan bendera merah putih pertama kali di kampong Peling dan beberapa pergerakan politik yang dilakukan oleh putra-putri Sitaro di masa perlawanan melawan penjajah.

2. Sitaro Masa Kini

Pada sesi ini peserta akan mengeksplorasi berbagai permasalahan daerah. Adapun masalah-masalah tersebut meliputi berbagai fungsi antara lain: Fungsi Pelayanan Umum (Birokrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah). Dalam fungsi ini banyak permasalahan yang teridentifikasi pada fungsi ini antara lain: 1) Belum maksimalnya kinerja lembaga pemerintah kampong dan kelurahan, 2) Terbatasnya infrastruktur pedesaan terutama di wilayah terpencil dan perbatasan, 3) Belum optimalnya peranan lembaga-lembaga di kampong dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, 4) Terbatasnya akses masyarakat kampong terhadap sumber daya modal melalui lembaga Perbankan, 5) Masih ada wilayah kecamatan yg perlu dimekarkan, 6) Belum memadainya sarana dan prasarana di ibukota Ondong dan ibukota kecamatan lainnya, 7) Perumusan dan penyusunan berbagai dokumen perencanaan perlu disinkronisasi dengan proses penganggaran, 8) Masih terdapat sumber PAD potensial yg dapat memberikan kontribusi signifikan, 9) Administrasi pengelolaan asset daerah belum tertib, 10) Penyusunan anggaran belanja belum sepenuhnya berdasarkan pendekatan kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan, 11) Kualitas dan kuantitas aparat pengawasan fungsional masih belum memadai, 12) Kebutuhan kuantitas dan kualitas PNS belum terpenuhi terutama tenaga medis/paramedic dan tenaga strategis di Puskesmas dan kecamatan serta kelurahan/kampong, termasuk juga tenaga pendidik, 13) Tingkat disiplin PNS rendah, kesejahteraan PNS gol. I dan II rendah dan tinggal di kampong dengan biaya ekonomi relative tinggi, 14) Sarana dan prasarana aparatur pemda belum memadai, 15) Masih ada peraturan perundang-undangan yang belum diatur lebih lanjut dengan Perda, 16) Belum terbangunnya kantor pos pembantu di beberapa ibukota kecamatan, 17) Masih banyak penduduk yang belum bisa mengakses layanan telepon seluler maupun internet.

Selain itu adalah Fungsi Pendidikan. Dalam fungsi pendidikan masalah yang teridentifikasi antara lain: 1) Rendahnya cakupan PAUD dan belum memadainya sarana prasarana pembelajaran pada lembaga PAUD serta kurangnya tenaga guru TK, 2) Banyak gedung SD belum direhabilitasi, 3) Masih terdapat anak usia sekolah di pemukiman terpencil yang sulit mengakses pendidikan SD dan SMP karena hambatan geografis, 4) Belum terpenuhinya kebutuhan tenaga guru SD dan SMP terutama di kampong terpencil termasuk belum meratanya distribusi tenaga guru serta tingkat kesejahteraan guru yg belum memadai, 5) Rendahnya Angka Partisipasi Sekolah penduduk usia 16-18 tahun dan angka melanjutkan lulusan lulusan SMP/MTs ke SMA/sederajat terutama pada kecamatan yang belum memiliki sekolah sekolah menengah serta kampong yg relative jauh dari pusat layanan pendidikan dengan tingkat kemampuan ekonomi masyarakatnya yang rendah, 6) Belum memadai sarana/prasarana dan penunjang KBM pada sekolah yg baru dibangun, 7) Belum terpenuhi kebutuhan guru baik kualitas maupun kuantitas, 8) Belum ada lembaga Pendidikan Tinggi, 9) Data penduduk buta aksara belum akurat, 10) Masih ada penduduk buta aksara yg belum terjangkau oleh program pemerintah, 11) Terbatasnya lembaga pendidikan ketrampilan informal, 12) Belum ada perpustakaan daerah, 13) Belum ada sarana dan prasarana olahraga umum yang memadai, terbatasnya biaya untuk pembinaan olahraga.

Pada Fungsi Ekonomi permasalahan yang teridentifikasi antara lain: 1) Belum tuntasnya pembangunan jalan lingkar di tiga pulau besar karena rendahnya biaya pemeliharaan jalan, serta belum terbukanya jalan menuju sentra produksi, 2) Belum optimalnya pengoperasian terminal, 3) Sistem jaringan pelayaran secara permanen dan efektif terutama untuk menghubungkan pulau-pulau belum terbangun, 4) Masih rendahnya kualitas dan kapasitas prasarana dan sarana pelabuhan laut, 5) Belum terbangunnya fasilitas dermaga, tambatan perahu bagi pelayaran local, 6) Masalah teknis penerbangan, 7) Sebagian besar tenaga kerja produktif berpendidikan menengah ke bawah belum memiliki ketrampilan yg dibutuhkan pasar kerja sedangkan tenaga kerja terdidik juga belum bisa diandalkan untuk berkompetisi dalam pasar global. 8) Tenaga kerja sulit mengakses pelatihan ketrampilan yang cenderung dilakukan terpusat di Manado, 9) Koperasi dan UKM belum berfungsi karena terbatasnya akses terhadap sumber modal dan lemahnya manajemen kelembagaan serta rendahnya kualitas SDM, 10) Minat investor kurang, 11) Peranan institusi dan stakeholders dalam pembangunan masih lemah, 12) Alokasi dana untuk kampong masih belum memadai, 13) Kebutuhan Pangan belum tercukupi dengan produksi bahan pangan local berupa beras, palawija, sayuran dan buah, serta pangan hewani, 14) kurangnya pengetahuan teknis petani dalam pola pemilihan bibit, pengolahan Lahan dan hasil pemeliharaan tanaman disebabkan kualitas dan kuantitas tenaga penyuluh pertanian belum memadai, 15) menyempitnya lahan pertanian karena berlangsungnya kegiatan alih fungsi lahan menjadi lahan menjadi lahan perkebunan, pemukiman penduduk dan Pembangunan prasarana public, peremajaan tanaman perkebunan dan penanggulangan hama belum optimal, 16) Prasarana irigasi dan pemanfaatan lahan irigasi belum berfungsi optimal sedangkan terdapat lahan potensial yang belum dikembangkan sebagai daerah irigasi, 17) Usaha peternakan belum berkembang karena lemahnya modal dan tingginya biaya produksi, kegiatan vaksinasi belum merata disemua kecamatan karena kurangnya persediaan vaksin, 18) meningkatnya kegiatan pembabatan hutan karena aktivitas penebangan kayu oleh penduduk, 19) belum lengkapnya data potensi mineral dan bahan tambang lainnya karena belum ada penelitian dan eksplorasi yang dilakukan, kesadaran masyarakat penambang galian C masih rendah dalam mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan serta kualitas dan kuantitas PNS Dinas Pertambangan dan Energi masih rendah sehingga kegiatan penambangan sulit ditertibkan, 20) belum tuntasnya masalah penanggulangan kelangkaan BBM dan terbatasnya pasokan kuota mengakibatkan harga BBM sangat tinggi, adanya indikasi monopoli usaha penjualan BBM, belum efektifnya pengawasan dan penindakan terhadap pelaku penyelundupan BBM dan perdagangan barang terlarang oleh aparat yang berwewenang, 21) Masih tingginya tingkat gangguan terhadap Jaringan listerik terutama di wilayah yang melalui perkebunan penduduk, masih banyak penduduk yang belum terlayani penerangan listerik terutama penduduk di pulau-pulau kecil dan di pemukiman yang terpencar, 22) Kesulitan nelayan kecil/tradisional dalam mengakses modal usaha, peralatan tangkap yang dimiliki nelayan belum mampu bersaing dengan peralatan nelayan asing, kegiatan illegal fishing masih tinggi, sementara operasi pengawasan laut belum mampu menunjukkan hasil yang nyata, sebagian besar kelompok nelayan penerima bantuan belum mampu mengelola usaha kelompok sehingga usaha bersama tidak berlanjut, sarana dan prasarana kelautan/perikanan belum memadai, 23) distribusi bahan kebutuhan pokok dan barang strategis, umumnya masih didatangkan dari luar daerah, 24) komoditi unggulan yg berorientasi ekspor belum memiliki daya saing sehingga penawaran pasar relatif rendah/murah, pelaku kegiatan perdagangan umumnya dilakukan oleh pedagang bukan pelaku usaha handal sehingga target pasar masih berorientasi local, 25) rendahnya penguasaan teknologi, lemahnya kemampuan manajerial, terbatasnya akses modal dan jaringan pemasaran mengakibatkan belum terjadi peningkatan yang signifikan pada kualitas dan kuantitas produk indistri kecil/rumah tangga, serta rendahnya minat mayarakat pada pembudidayaan tanaman bahan baku industry kecil/rumah tangga, 26) terbatasnya kewenangan Pemkab dalam menjalin hubungan kerjasama luar negeri untuk promosi pengembangan perdagangan dan industry, 27)
Pada Fungsi Kesehatan, permasalahan yang teridentifikasi antara lain: 1) prasarana dan peralatan pada satuan pelayanan kesehatan Puskesmas, Puskesmas pembantu dan pos yandu, terutama Puskesmas yang baru ditingkatkan menjadi Puskesmas Perawatan (rawat inap), tetapi belum beroperasi maksimal, 2) Tingkat pelayanan kesehatan bagi masyarakat pada semua satuan pelayanan belum memadai, 3) Belum terbangunnya RSU guna mempermudah akses pelayanan kesehatan bagi penduduk di tiga pulau besar dan pulau-pulau sekitarnya, 4) Belum terbangunnya rumah dinas bagi kepala puskesmas dan paramedic terutama di pulau terluar (makalehi), 5) tingginya kerusakan bangunan puskesmas dan puskesmas pembantu, 6) jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan belum memadai seperti: tenaga medis, paramedic perawatan dan non perawatan, dan tenaga penunjang baik di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, 7) Penanganan masalah gizi buruk pada Balita, anak, Bumil dan Bufas, 8) belum tuntasnya penanganan dan pemberdayaan keluarga menuju keluarga sejahtera.

Pada Fungsi Pariwisata dan Budaya, telah teridentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: 1) Tingkat kunjungan wisman dan wisatawan domestic dan wisatawan local masih rendah, 2) Sarana dan prasarana penunjang di objek wisata masih belum memadai, 3) promosi wisata masih belum optimal, 4) terbatasnya alokasi dana dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata daerah, 5) Belum optimalnya pelestarian adat dan budaya daerah termasuk situs-situs budaya daerah; 6) terbatasnya permasalahan dan pengembangan kesenian daerah dan kurangnya narasumber kebudayaan daerah, 7) Kualitas dan kuantitas SDM Pariwisata dan budaya belum memadai.

Pada Fungsi Ekologi ditemukan permasalahan-permasalahan sebagai berikut: 1) pengaturan tata batas antar dan inter wilayah kampong/kelurahan, kecamatan dan antar kabupaten masih belum optimal, 2) pemanfaatan ruang belum sepenuhnya berdasarkan RTRW oleh karena masih belum tersedianya RTRW setelah pemekaran, 3) Masih terjadi pengambilan dan pemanfaatan SDA (pesisir pantai, hutan dan sungai) secara berlebihan dan tidak bertanggungjawab serta tidak memperhitungkan kuntinuitasnya, 4) semakin menurunnya debit air pada mata air, sungai, danau, dan sumber air lainnya akibat perusakan dan pemanfaatan hutan untuk usaha, pertanian dan perkebunan, 5) masih banyak masyarakat sulit memperoleh air bersih/baku untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan lainnya, 6) terbatasnya tanah/lokasi milik Pemkab untuk pembangunan sarana dan prasarana public dan sebagian besar tanah/asset Pemkab belum memiliki sertifikat, 7) rendahnya kesadaran masyarakat pemilik tanah mendaftarkan tanahnya, disamping ketersediaan data kepemilikan dan penggunaan tanah kurang akurat sehingga masih banyak tanah masyarakat yang belum mempunyai sertifikat guna menjamin tertib dn kepastian hokum pertanahan.

Pada Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut: 1) Belum adanya penataan kawasan kota, 2) Belum terbangun tanggul/bantaran penahan abrasi di tepi Daerah Aliran Sungai dan diperlukan normalisasi sungai, 3) Tingginya tingkat kerusakan pantai akibat abrasi namun belum sepenuhnya mendapatkan penanganan sehingga mengancam pemukiman penduduk, 4) prasarana dasar lingkungan pemukiman seperti air bersih, drainase dan sarana pengelolaan sampah belum memadai, 5) belum ada penanganan slum area.

Pada Fungsi Perlindungan Sosial teridentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: 1) Data kependudukan belum sepenuhnya akurat, 2) belum terjaminnya hak-hak dasar anak dan perempuan, 3) Pemberdayaan perempuan antara lain melalui kegiatan pengarusutamaan gender belum optimal, 4) masih rendahnya tingkat kesejahteraan keluarga, 5) Belum efektifnya pelaksanaan pemberian bantuan bagi PMKS dibarengi dengan data PMKS yang belum akurat sehingga penerima bantuan tidak kena sasaran, 6) pendamping program pemberdayaan keluarga miskin belum tersedia, 7) belum tuntasnya penguatan kelembagaan social masyarakat.

Pada Fungsi Keamanan dan Ketertiban, terdapat masalah-masalah sebagai berikut: 1) pengamanan pulau-pulau perbatasan serta penanggulangan bencana belum optimal, 2) Kondisi masyarakat di wilayah perbatasan dan pulau terluar masih terisolir dan marginal, 3) terbatasnya sarana dan prasarana pembinaan, pengawasan dan pengelolaan, di wilayah perbatasan dan pulau terluar, 4) sarana dan prasarana keamanan dan ketertiban masih terbatas.

Kesembilan fungsi tersebut di atas yang dapat teridentifikasi sebagai permasalahan dalam pembangunan Kabupaten Kepulauan Sitaro sejak berdirinya sampai saat sekarang ini. Dengan demikian masalah-masalah yang kompleks dan saling kait-mengait di atas hendak dieksplorasi menurut kesembilan fungsi masing-masing.

3. Sitaro Masa Depan

Dalam segmentasi masa depan, peserta FGD ini hendak merumuskan langkah-langkah strategis apa yang sekiranya dapat dijadikan sebagai alaternatif solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah di Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Secara garis besar rumusan itu akan tergambar dalam beberapa bagian rekomendasi strategis mengenai:
a. Peluang dan Tantangan Investasi di Sitaro
b. Perencanaan Wilayah (RTRW) Sitaro
c. Pola Pemberdayaan Masyarakat Sitaro
d. Strategi Pengembangan Komoditi Unggulan, dan
e. Strategi Pengembangan Pariwisata

b. Tahapan Kegiatan

Kegiatan FGD akan melalui tahap-tahapan sebagai berikut:

1. Registrasi Peserta
Registrasi peserta dilaksanakan pukul 08.00 – 09.00 wita. Seluruh peserta sudah dipastikan mendapatkan materi/TOR sebelum kegiatan ini dimulai dan konfirmasi terakhir peserta dilakukan di tempat pelaksanaan kegiatan.

2. Pembukaan
Dalam bagian ini panitia mempersiapkan seluruh perangkat yang diperlukan dan memastikan semuanya telah berada dalam kondisi siap 15 menit sebelum kegiatan dimulai. Panitia melakukan konfirmasi akhir di meja depan (penerima tamu). Setelah semua dipastikan selesai, sekretaris panitia mengundang Pemerintah Daerah, Bupati Toni Supit, M.M untuk membuka kegiatan. Bupati diberikan kesempatan memberikan sambutan selama 10 menit dan mengetuk palu sidang pertanda kegiatan dimulai. Bagian ini dilaksanakan pukul 09.00 -09.10 wita.

3. Laporan Panitia (Tim Kerja)
Ketua panitia memaparkan laporan kegiatan selama 5 menit. Seteah itu moderator mengambil alih dan memimpin jalannya kegiatan diskusi. Bagian berlangsung dari pukul 09.10 – 09.15 wita.

4. Diskusi Sesi 1: Sitaro Masa Lalu
Moderator 1 memulai diskusi berdasarkan peta permasalahan dan menggiring peserta untuk menjawab item-item permasalahan. (lihat lampiran). Bagian ini dilaksanakan sepanjang 1,5 jam sejak pukul 09.15 – 11.15 wita.

5. Rehat (Snack Pagi)
Panitia memastikan kesiapan snack pagi telah tersedia, moderator 2 mempersiapkan materi untuk eksplorasi sesi 2. Bagian ini dilakukan pukul 11.15 – 11.30 wita.

6. Diskusi Sesi 2: Sitaro Masa Kini
Moderator 2 kembali memimpin diskusi pada sesi 2, sejak pukul 11.30 – 13.00 wita

7. Rehat (Makan Siang)
Panitia memastikan kesiapan makan siang telah tersedia, moderator 2 dan 3 mempersiapkan materi untuk eksplorasi sesi 3. Bagian ini dilaksanakan pukul 13.00 – 13.30 wita.

8. Lanjutan Sesi 2
Lanjutan sesi 2 akan diarahkan oleh moderator 2 dan didampingi oleh moderator 3, kegiatan dilakukan pukul 13.30 – 14.30 wita.

9. Rehat (Snack)
Panitia memastikan kesiapan untuk coffe break sudah tersedia. Kegiatan ini berlangsung pukul 14.30 – 14.45 wita.

10. Diskusi Sesi 3: Sitaro Masa Depan
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi pada sesi 3 yang dimoderatori oleh moderator 3. Pembahasan lebih diarahkan pada upaya untuk menemukan format atau model pembangunan yang relevan diterapkan di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Kegiatan ini dilaksanakan pukul 14.45 – 16.00 wita.

11. Penutup
Kegiatan ini akan ditutup oleh Wakil Bupati Drs Piet Kuera pada pukul 16.15 setelah seluruh rangkaian kegiatan dipastikan selesai dan dibaca beberapa butir rekomendasi strategis sebagai hasil diskusi. Pada kesempatan ini langsung dilakukan konferensi pers dengan wartawan yang hadir sesuai quota undangan.