Tag

, , , ,

Bila ditelusuri dari asal-usul keturunannya atau yang disebut silsilah, maka nenek moyang penduduk daerah Sangihe Talaud semuanya berasal dari tempat lain yang datang melalui lautan, lalu menetap di daerah tersebut, mereka adalah:

  1. Ras Apapuang (yang paling awal), konon ceritanya berasal dari Bangsa Negrito;
  2. Ras yang berasal dari Saranggani, Mindanao Selatan;
  3. Ras dari daratan Merano, Mondanao Tengah;
  4. Ras dari Kepl. Sulu (sebagian kecil adalah raksasa);
  5. Ras dari Kedatuan Bowentehu + Manado Tua, dimana ras ini berasal dari Molibagu (Bolangitam).

Dari kelima ras diatas, hanya ras no. 1 dan no. 5 yang suka perdamaian, sedang ras no. 2, 3 dan 4 termasuk ras yang gemar berperang. Namun demikian sesuai keyakinan, mereka enggan memulai tapi bersifat menunggu, nanti membalas serangan yang datang dari lautan, utamanya musuh bubuyutan dari bajak-bajak laut dari Kepl. Sulu.

Selain itu para leluhur, suka hidup bertolong-tolongan (métawang/makitawang), suka bekerja gotong-royong (métatondong munara), patuh pada perintah pimpinan asalkan jangan ditekan, gemar berdendang sementara berperahu (mésambo), berdendang sambil mencukur kelapa untuk dibuat minyak kelapa (mékalumpang), berdendang sambil menuai kebun padi ladang dan gemar sekali minum tuak atau saguer.

Jika terjadi pertikaian berdarah antara penduduk di daerah pada waktu itu, hal itu kebanyakan dipicu oleh pembalasan dendam atau menuntut bela. Contohnya

  1. Datuk Makaampo-Bawengehé sebelum jadi raja/datu di Kedatuan Tawukang-Dimpulaeng, kira-kira tahun 1520 pergi menyerang penduduk pulau-pulua Nanusa, karena orang-orang pulau Nanusa-Talaud, menangkap dan membunuh Tangkuliwutang (ayahnya), yang sementara memancing di sekitar Rainis, karena Naboisan ibu Makaampo dengan Panurat adiknya berdiam di Rainis.
  2. Pertikaian berdarah antara kerajaan Tahuna dengan kerajaan Manganitu yang dimulai tahun 1645, merupakan sengketa batas kerajaan.
    Buntuang raja Tahuna ke-2 memindahkan kubunya dari Bukide ke gunung Séhengbalira, padahal Séhengbalira waktu itu adalah wilayah Manganitu.
    Tolo pendiri kedatuan Manganitu gugur karena dikhianati oleh Alahungbeli (budak raja Tolo sendiri), yang jadi kaki tangan raja Tahuna. Sedangkan dari kerajaan Tahuna, Hulubalang Pulungtumbagé dapat dikecoh oleh pendekar Lantemona, lalu jatuh tenggelam dalam rawa yang dalam, sampai rambutnya tidak nampak dari permukaan rawa Manganitu, yang sampai sekarang disebut Bonohangsaghu.