Tag

, , , , , , , , , , ,

Beberapa waktu lalu, saya memperoleh sebuah buku. Buku tersebut awalnya ditulis tangan, namun kemudian dirapihkan dengan ketikan mesin tik. Adalah Hans Barik (seorang pegawai di Dinas Pertanian Kab. Kepl. Sitaro) yang mengoleksi buku tersebut. Menurut Hans, Ia memperolehnya secara langsung dari keluarga penulis buku itu.

Hans Barik sangat berkeinginan untuk mempublikasikan isi buku tersebut, agar supaya banyak orang yang mengetahui isi dari buku tersebut, terisitimewa memahami apa yang dimaui oleh penulis. Sejauh ini, menurut Hans belum ada satupun usaha untuk menerbitkan secara massal buku tersebut.

Buku itu diberi judul: SANGIHE TALAUDE, SUENDUMANG disusun  oleh D. MANATAR. Dalam prakata tertera tanggal Agustus 1994 sebagai akhir dari penyusunan buku tersebut. Namun dalam pengantarnya yang singkat itu, D. Manatar menyatakan bahwa, Ia sejak 1936 sampai 1978 berusaha menghubungi sebanyak 26 orang sebagai narasumber bukunya. Salah satu narasumbernya adalah catatan tangan dari W.M.P. Mocodompis yang tak lain Raja Manganitu yang gugur dibawah kuasa pedang samurai Jepang pada 19 Januari 1945.

Usaha penyusunan kepingan-kepingan narasumber tersebut dimulai sejak Agustus 1982 ketika D. Manatar mendapat himbauan dari Prof Dr. M. Makagiansar, M.A.  Namun seperti yang diakui oleh penyusun, Ia tidak ditunjang dengan sarana yang memadai (mesin ketik, kertas dan karbon serta penulisan manual pada beberapa aksara daerah) membuat buku tersebut baru selesai disusun pada 1994.

Sebuah usaha yang patut diapresiasi tinggi. Sebab dalam buku yang berukuran kertas F4 tersebut tertera: Sejarah Sangihe Talaude; batas geografisnya menurut cerita rakyat; asal-usul dan karakteristik penduduk. Juga ada bab tersendiri mengenai Bahasa Daerah yang berisikan naskah-naskah Kakumbaede; Kakalanto; Bawowo; Sasambo; Kakalumpang; Tatinggung dan berbagai macam Papantung (pantun). Demikian pula ada naskah-naskah pidato dalam upacara-upacara adat seperti: Dumangeng bale wuhu; Sasalamate me kawing; Papoto Tamong Banua (Tulude); Tatondo Lapasi; Tatondo Sakaeng Gaghuwa.

Ada pula bab yang mengulas tentang Seni baik itu seni tari maupun seni urai. Dan yang menarik D. Manatar berusaha menyusun asal-asul keturunan / silsilah dari beberapa ras (marga) yang berhubungan langsung dengan nenek moyang orang Sangihe Talaude. Diantaranya: Ras dari Suku Apapuang; Ras dari pulau Saranggani (Mindanao Selatan), Ras dari Merano (Mindanao Tengah), Ras dari Kepulauan Sulu dan Ras dari Molibagu – Bolaangitan (Bowongtehu).

Serta ada pula bagian yang membahas arti dari nama-nama tempat menurut sejarahnya. Patut juga diberi apresiasi yang tinggi, karena penyusun berusaha membuat sebuah kamus kecil mengenai Bahasa Bahari. Dimana setiap kata dibagi dalam tiga kategori (sebagai bahasa Sasahara/Saslili atau bahasa kelautan, sebagai bahasa hari-hari dan artinya dalam bahasa Indonesia).

Sejak menerima buku setebal 72 halaman tersebut (entah aslinya berapa halaman), saya terpanggil untuk mempublikasikannya sebagai bahan catatan sejarah bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah, budaya, sastra dan adat Sangihe Talaude.

Oleh karena itu, mulai Januari 2010 saya akan mencoba mempublish secara berseri isi buku tersebut melalui blog ini yang dapat dikuti dalam Kategori SUENDUMANG. Semoga usaha yang mulia dari D. Manatar mendapat apresiasi yang tinggi dari kita semua. Dan semoga pula cita-cita beliau untuk mempublikasikannya secara luas mendapat sambutan yang hangat. (Siapa tahu ada yang berkecukupan dalam hal dana untuk menerbitkannya).