Tag

, , , , , , ,

jalanBerbeda dengan kondisi jalanan yang ada di Siau Bagian Barat dan Siau Bagian Timur, akses jalan ke Pulau Siau Bagian Utara sungguh memprihatinkan. Kondisi yang sangat kontras mulai terlihat sejak dari Kampung Ingge. Jalanan yang begitu sempit, praktis hanya bisa dilalui kenderaan roda dua, menjadi penghubung satu-satunya akses darat ke bagian utara pulau Siau.

Lepas dari Kampung Ingge hingga ke Kampun Nameng, lokasi jalanan yang naik turun dan berliku serta sempit, benar-benar menantang nyali bagi yang pertama kali menelusuri jalanan tersebut. Permukaan jalan hanya di beton dengan dasar seadanya, sehingga disana-sini terdapat lubang-lubang yang cukup berbahaya.

Medan yang juga cukup sulit menjadikan pembangunan jalan di bagian utara pulau Siau ini menjadi salah satu kendala utama. Disisi yang satu terdapat gunung dengan topologi batu-batu besar, sementara di sisi lain menanti tebing yang cukup dalam, dengan bebatuan besar di tepi pantai.

Sungguh sebuah perjalanan yang menegangkan sekaligus melelahkan. Sampai di Kampung Nameng, akses jalanan kenderaan roda dua terputus. Dan untuk mencapai Kampung Batu Bulan (Kampung paling utara di Siau) tidak ada cara lain kecuali jalan kaki.

Jika lautan tidak bergelombang, penduduk setempat lebih memilih akses melalui laut ketimbang darat, untuk mencapai pusat perdagangan di Ulu. Sungguh sebuah kondisi yang memprihatinkan sekaligus sebuah ironi.

Sebab, sepanjang jalan yang kami lalui kemarin, tersaji pemandangan yang luar biasa. Sajian eksotisme pulau-pulau di bagian Timur Pulau Siau (Klaster Buhias) dan sajian pantai curam dengan tebing-tebing batu yang menantang, merupakan sebuah destinasi wisata yang bisa dimaksimalkan.

Kondisi akses jalan yang jauh tertinggal dibanding dengan Siau Bagian Timur dan Barat ini, menjadikan kehidupan ekonomi masyarakat bagian Utara pas-pasan. Semoga setelah Siau Tagulandang Biaro menjadi sebuah kabupaten, bagian Utara dari pulau penghasil pala ini tersentuh oleh pembangunan.