Tag

, , , , , , ,

pala-dengan-fuli1Pala, bagi orang Sitaro (terutama yang tinggal di Pulau Siau) layaknya warisan emas. Tidaklah mengherankan, sebab tanaman tahunan ini menjadi penghasil komoditi andalan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Selain Gunung Api Karangetang, pala juga merupakan ikon bagi Pulau Siau. Jika anda berkesempatan mengunjungi Pulau Siau dan Pulau Tagulandang tepat diwaktu masa panen besar, maka sepanjang jalan yang anda akan lalui, terhampar jemuran pala dan fuli yang dikeringkan dengan bantuan sinar matahari.

                Tanaman yang terhitung mudah dalam pemeliharaannya ini menjadi sumber utama penghasilan masyarakat Sitaro selain dari sektor perikanan. Menurut data yang dipaparkan oleh Sekretaris Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kab. Kepl. Sitaro, Richard R. Sasombo SPt, luas areal tanaman pala di Kab. Sitaro meliputi 3.166,75 Ha. Dimana, 2.619,9 Ha diantaranya merupakan tanaman yang menghasilnya, 364,75 Ha yang belum menghasilkan, dan sisanya tanaman pala yang tidak produktif.  Sehingga tidaklah heran, jika anda berada di Pulau Siau, sejauh mata memandang ke arah perbukitan dan gunung, terhamparlah pohon-pohon pala yang seolah-olah menjadi selimut bagi bumi.

                Pala yang berkembang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro adalah jenis Myristica Fragrans yang memiliki kualitas dan produktifitas tinggi. Sehingga, biji dan fuli pala dari Sitaro merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tanaman pala di Sitaro sendiri, konon berasal dari Kepulauan Banda yang masuk melalui hubungan dengan Kerajaan di Ternate. Dulu, para leluhur orang Sitaro sering berlayar ke Ternate untuk menjual hasil bumi berupa kelapa (kopra). Ketika pulang mereka membawa bibit pala. Dari aktifitas inilah pala menjadi komoditas andalah Kab. Kepl. Sitaro hingga sekarang.

                Angka Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Kab. Kepl. Sitaro pada tahun 2007 menunjukkan besaran Rp. 365 juta dan sebesar Rp. 250 juta atas dasar harga konstan. PDRB tersebut terbentuk dari kontribusi 9 sektor pembangunan, dimana sektor pertanian dengan sub sektor perkebunan sebagai sektor primer menjadi sektor yang paling dominan dalam kontribusi terhadap PDRB, yakni sebesar 33,61%.  Angka persentase ini merupakan sumbangan terbesar dari komiditas pala, yang secara siginifikan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi Kab. Kepl. Sitaro tahun 2007 sebesar 5,74%

                Produksi  Pala sendiri, menurut Ir. Ridson Bawotong selaku Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kab. Kepl. Sitaro rata-rata setahun sebesar 3.485,80 ton, sedangkan Fuli sebesar 348,58 ton. Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik. Luas penanaman pala dalam 1 ha dapat meliputi sebanyak 156 pohon. Tanaman ini, sudah mulai berbuah pada usia 7 tahun. Dan jika sudah produktif, tanaman pala dapat menghasilkan sebesar 8 kg / pohon / tahun.

menjemur-fuliSayangnya, komoditas andalan ini di Kab. Kepl. Sitaro hanya diperdagangan sebagai bahan mentah, belum sebagai bahan jadi atau setengah jadi. Pada umumnya petani menjual hasil panen yang berupa biji yang masih terbungkus dengan tempurungnya, serta fuli yang telah dikeringkan. Pengusaha pala yang ada di Sitaro, pada umumnya membeli langsung dari Petani dan menjualnya kembali ke Eksportir yang ada di Manado. Belum adanya eksport langsung dari Sitaro terhadap komoditi ini diakui pula oleh Kepala BAPPEDA Kab. Kepl. Sitaro, Drs. Denny Kondoj, M.Si.

  “BAPPEDA sebagai instansi yang mengurusi Penanaman Modal Daerah, kedepan akan berupaya agar pala dan fuli dapat diekspor langsung dari Pulau Siau.”  Lebih lanjut  mantan Kabag Humas Pemkab Sitaro ini membeberkan, “saat sekarang BAPPEDA sedang mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah yang mengatur pemberian insentif dan stimulus terhadap investor. Sehingga investor bisa tertarik dalam menanamkan modalnya di Kab. Kepl. Sitaro. Kemudahan yang akan diberikan berupa, pengurusan ijin, penyediaan lokasi dan kalau perlu pembebasan pajak daerah selama setahun.”

                Jika ada investor besar yang bisa mendirikan pabrik pengolahan pala dan fuli di Sitaro, jelas hal itu akan memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan petani. Sebab, Pemkab Sitaro dapat mengontrol secara langsung harga komoditas yang sangat laku di pasaran rempah-rempah dunia ini. Karena selama ini, walau harga cenderung stabil, namun eksportir di luar daerah yang memegang kendali terhadap harga. Demikian pula, jika ekspor bisa dilakukan langsung dari Sitaro, maka Pajak dan Bea Ekspor bisa dinikmati oleh Pemkab Sitaro, bukan seperti kondisi sekarang, komoditasnya dari Sitaro tapi Pajak dan Bea ekspornya dinikmati daerah lain.

                Demikian pula, Pemkab Sitaro melalui instansi terkait akan mendorong produk sampingan dari pala. Sebab selama ini petani hanya menjual pala dalam bentuk biji dan fulinya saja. Sementara, daging buah dan tempurung pala tidak diolah sebagai produk sampingan. Padahal di daerah lain, seperti di Minahasa, daging buah pala dijadikan sebagai manisan pala manis, yang merupakan salah satu jajanan khas daerah.

                “Beberapa waktu lalu, Fakultas Pertanian Universitas Samratulangi Manado bekerjasama dengan Dinas Pertanian Sitaro, mengadakan penelitian pembuatan selai pala. Dan dari hasil penelitian tersebut baik dari segi citarasa dan nilai ekonomi, selai pala dapat menjadi salah satu sumber pendapatan petani.” Hanris Barik Bsc, Kepala Bidang Pertanian di Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Sitaro memberikan penjelasan. Selain selai, pala juga dapat diolah menjadi sirup dengan cita rasa yang tidak kalah dengan sirup lainnya. Hanya saja, kendala modal sebagai hambatan utama menjadi tantangan bagi petani dan pemerintah daerah dalam mengembangkan produk sampingan pala tersebut.

                Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh BAPPEDA Sitaro saat sekarang, perlu mendapat respon yang baik dari semua pihak. “Saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Explore Indonesia, yang memberikan ruang untuk promosi investasi ini. Karena kami sangat berharap, ada investor yang tertarik menanamkan modalnya di Sitaro. Terutama mendirikan pabrik pengolahan Pala.” Demikian Kepala Bappeda, Drs. Denny Kondoj Msi. Lebih lanjut Ia mempersilahkan investor untuk menghubunginya secara langsung jika menginginkan data yang komprehensif terhadap peluang investasi di Sitaro.

“Saya siap kapan saja memberikan presentasi. Yang jelas Pemkab Sitaro akan memberikan jaminan kemudahan bagi investor. Daerah ini punya sejuta potensi untuk dikembangkan, terlebih komoditas pala yang sepanjang tahun berproduksi. Investor tidak akan kekurangan bahan baku. Setiap saat, petani dapat mensuplai. Dan sekali lagi perlu diingat, bahwa belum ada eksportir pala langsung dari Sitaro. Ini merupakan sebuah peluang yang sangat bagus bagi eksportir yang berminat.” Tambah Kepala Bappeda yang masih tergolong usia muda tersebut.

Tanaman pala yang telah menjadi warisan ratusan tahun bagi masyarakat Sitaro memang layak untuk mendapat perhatian lebih. Komoditas ini telah menjadi tulang punggung penggerak ekonomi rakyat. Bagi orang Sitaro, pala bukan hanya sekedar tanaman, tetapi lebih dari itu, tanaman ini juga merupakan simbol sosial. Belum lengkaplah menjadi orang Siau jika tidak memiliki tanaman pala. Tidak heran, jika kebun pala menjadi harta yang diwariskan dalam keturunan keluarga.

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, yang baru 2 tahun memekarkan diri dari Kabupaten Sangihe memberikan tumpuan yang tinggi terhadap komoditas pala ini sebagai penyumpang pendapatan daerah. Mendatangkan investor memang menjadi target utama, tetapi peningkatan kesejahteraan masyarakat disisi lain harus pula menjadi prioritas. Penanaman modal harus mempertimpangkan aspek sosial, budaya dan keseimbangan alam. Sehingga Negeri 47 pulau itu tetap akan eksis dengan kemurahan alam yang dimilikinya, baik dari selimut alam pala, maupun dari kekayaan laut yang dimilikinya.