Tag

, , , , , , , , ,

(Sajian Eksotisme Kawasan Pantai dan Gunung Api Yang Masih Virgin)

(artikel ini merupakan artikel saya untuk dimuat di Explore Indonesia edisi Januari 2009)

Kabupaten Sitaro termasuk dalam bentangan laut dan ratusan pulau di Kawasan SaTas (Sangihe Talaud), yang terletak paling utara Indonesia. Secara administratif, Kabupaten Sitaro berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Nama kabupaten ini diambil dari akronim 3 pulau besar dalam wilayahnya, yakni Siau, Tagulandang dan Biaro.

Kabupaten Sitaro sendiri terdiri dari 47 pulau, 10 pulau diantaranya berpenghuni dan 37 pulau lainnya tidak berpenghuni, kebanyakan diantaranya merupakan pulau batu. Kawasan ini mempunyai karakteristik geologis khas yang merupakan gugusan karang ( atol ) di dasar laut. Gususan karang yang bertumbuh inilah yang menyembul ke permukaan laut dan menjadi pulau. Penduduk lokal menamakannya napo.

Napo Pasige dan Mahoro

p-pasigeNapo-Napo ini menjadi berkah tersendiri bagi penduduk di Sitaro. Salah satu Napo yang telah menjadi pulau definitif adalah Pasige alias Passighi atau juga Pasiak di Gugusan Pulau Tagulandang. Terletak tidak jauh dari Pulau Ruang. Pulau ini kecil, rendah dan datar. Bahkan jika air pasang tinggi, pulau Pasige hampir tengelam. Tidak ada penghuni yang tinggal di pulau ini, tetapi pulau ini menjadi surga bagi nelayan menangkap ikan dan teripang.

Pulau MahoroPulau lainnya yang sangat indah adalah Pulau Mahoro. Terletak di Gugusan Pulau Siau. Atol Pulau Mahoro sudah sangat mapan. Sebuah berkah yang tak terhingga ada di Pulau ini. Sarang Burung Walet. Sarang-sarang ini bergantungan di dalam gua Mahoro. Sebuah sajian karya alam yang dahsyat. Jika pasang tinggi, gua ini hampir-hampir tenggelam. Sehingga diperlukan usaha yang ekstra untuk mengambil sarang burung walet. Dan yang tidak kalah menariknya, hamparan pasir putih nan eksotis menjadi sajian utama tatkala kaki menginjak pulau ini.

Silahkan baringkan badan, nikmati sensasi pasir yang lembut, deburan ombak yang memecah karang, dan desiran angin yang memantul dari tebing-tebing pulau. Dan jangan lupa alihkan pandangan ke arah Pulau Siau, dan tenggoklah “keangkuhan” Gunung Api Karangetang yang seolah berkata “akulah penguasa Negeri Karangetang Mandolokang Kolo-Kolo”.

Jika sudah puas, jangan sampai pulas. Sebab, di bibir pantai menanti hamparan karang, yang dalam bahasa lokal disebut nyare, siap untuk di snorking atau diving. Tapi jangan lupa, bawa peralatan sendiri. Karena, harap maklum –seperti pada umumnya diseluruh lokasi wisata di Kab. Sitaro− tidak ada sarana penunjang pariwisata. Semuanya masih sangat virgin. The Real.

Pantai Tangganga

            Terletak di bagian selatan Pulau Siau, terdapat sebuah Pantai dengan Pasir Kuning yang merupakan hasil dari pecahan karang mati. Karena pantai ini dikelilingi oleh hamparan terumbu karang yang luas. Orang siau menamakannya Tangganga, yang bisa diartikan terbuka. Jika, anda berada di pantai ini, palingkan pandangan tepat ke depan arah laut, maka tampaklah menjembul kokoh di permukaan laut, Pulau kedua terbesar di Kab. Sitaro, Pulau Tagulandang.

Garis Pantai Tangganga cukup panjang. Terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh sebuah karang yang menjorok ke laut. Untuk mencapai pantai ini, Anda harus meneruni tebing. Karena seperti pantai lainnya di Pulau Siau, Pantai Tangganga juga terletak tepat di bawah kaki gunung. Dan sebelum menikmati sunset yang indah, karena tidak ada penghalang sama sekali, jangan lupa menyewa perahu nelayan. Sewa sekalian dengan alat pancingnya, dan nikmati sensasi memancing ikan karang. Dijamin, tidak sampai kaki kesemutan, mata kail sudah disambar ikan. Dan jika anda beruntung, anda masih bisa mendapat ikan sayap, salah satu ikan yang masuk kategori ikan purba.

Ikan SayapTapi jika anda takut naik perahu, tunggulah air surut. Lalu ajak penduduk lokal turun ke nyare, dan belajarlah bagaimana menangkap ikan yang terjebak disela-sela karang. Atau, cobalah menangkap udang laut, bemba, dengan cara yang unik. Menjebaknya dengan laso sambil tepuk tangan, sebab menurut penduduk disitu, udang itu hanya akan keluar jika kita bertepuk tangan diatas sarangnya. Atau jika mau yang sedikit keluar keringat, ikutlah kelompok nelayan yang menebar soma, jala ikan yang ditebar memanjang. Dan bersiaplah memanen ikan.

            Setelah itu, istirahatkan badan sambil bakar ikan dengan kayu dari ranting pohon bakau. Nikmatilah sensasi sea food segar di rona kemerahan matahari yang tenggelam di sisi Pulau Makalehi.

Air Panas Lehi

            Jika anda mengatakan bahwa air panas alam sudah biasa, maka mungkin anda salah. Yang ini berbeda. Terletak, di bagian Timur Pulau Siau terdapatlah sebuah sumber air panas. Air Panas Pantai Temboko Lehi. Berbeda dengan air panas pada umumnya, yang ini terletak di bibir pantai. Tepatnya, yang panas adalah air laut.  Sebuah keunikan yang berbeda. Tepat di antara bebatuan pinggiran pantai, mengalirlah air panas hasil “olahan dapur” Gunung Api Karangetang. Air panas ini langsung menuju ke laut. Dan terciptalah pemandangan yang unik itu. Air laut disepanjang pantai Lehi mengeluarkan uap. Dan panas.

            Karena panasnya, tidak ada ikan yang berani berenang sampai ke pinggiran pantai. Jika ada yang nekat, pastilah langsung matang. Telur saja jika dicelupkan bisa matang. Duduklah ditepian batu hasil erupsi Gunung Api Karangetang, sambil menikmati pemandangan yang indah. Tataplah ke arah depan, Pulau Makalehi akan menyapa anda. Jangan lupa untuk melepas kepenatan dengan menggagumi warna air laut yang kehijauan. Dan jika anda bisa menahan rasa hangat, segeralah ceburkan diri ke laut dan nikmati sauna/spa alami dengan kadar karam yang tinggi.

Gunung Api Karangetang dan Gunung Api Ruang

Kekhasan lainnya dari kawasan ini adalah terdapatnya dua gunung berapi aktif. Gunung Karangetang dan Gunung Ruang. Gunung Karangetang bahkan mendapat gelar The Real Volcano karena super aktifnya. Sepanjang tahun, dapur magma Gunung Api ini menyala terus. Dan hal ini menjadi sebuah pemandangan yang unik dan indah di malam hari. Tidaklah mengherankan jika pelaut menjadikannya sebagai patokan berlayar.

Gunung KarangetangGunung Karangetang terletak di Pulau Siau, dengan ketinggian 1.784 m dpl diatas permukaan laut. Gunung ini sangat identik dengan Pulau Siau itu sendiri. Penduduk lokal bahkan akan khawatir jika dalam waktu yang lama gunung adat mereka tidak “batuk-batuk”.  Sebab, jika itu terjadi, maka sekali “batuk” akan berakibat fatal. Salah satu hasil karya erupsinya, menyisahkan ukiran batuan vulkanik kampung Bebali. Yang juga bisa dijadikan obyek wisata.

            Wisatawan luar negeri, jika ke Siau biasanya datang menikmati Gunung Adat ini dari lokasi Pemantauan Gunung Berapi Karangetang. Disini, anda dapat melihat dengan sangat jelas puncak magmanya. Gunung ini juga identik dengan “gunung adat”. Orang siau percaya, jika Karangetang bergejolak, berarti telah terjadi suatu pelanggaran etis budaya di tanah Siau.

Gunung RuangGunung berapi lainnya adalah Gunung Api Ruang. Gunung Api ini merupakan sebuah pulau sendiri. Pulau utuh. Berada tepat di depan Pulau Tagulandang. Berbeda dengan Karangetang, Gunung Api Ruang (714 m dpl), sangat tenang. Bahkan jika melihat sepintas, anda mungkin tidak percaya bahwa itu adalah gunung api. Tidaklah heran, diatas gunung itu terdapat dua kampung. Penduduk tinggal disitu dengan tenangnya. Tapi, jangan terkecoh, Ruang juga merupakan gunung api aktif. Foto yang ada di halaman ini hanyalah separuh dari tinggi yang sebenarnya. Sebab, pada letusannya yang terakhir, gunung ini mematahkan setengah dari badannya.

Potensi yang Belum Termaksimalkan

            Apa yang disajikan diatas hanyalah merupakan sebagian kecil dari lokasi-lokasi yang patut dijadikan objek wisata di Kab. Kepl. Sitaro. Sayang, semua potensi itu belum termaksimalkan. Jangan berharap ada penunjang wisata di lokasi tersebut. Panduan dan informasi wisata saja sangat minim. Belum ada instansi terkait yang sungguh-sungguh ingin “menjual” lokasi tersebut. Padahal, Pulau Siau sendiri hanya berjarak 6 jam perjalanan laut dari Manado, bahkan dengan kapal cepat bisa ditempuh 3,5 jam saja. Mungkin kita bisa maklumi, karena Kab. Kepl. Sitaro baru berusia 2 tahun ketika memekarkan diri dari Kab. Sangihe.

            Sungguh sebuah sajian eksotisme yang virgin di kawasan nusa utara yang sayang untuk dilewatkan. Dengan biaya yang relatif sangat terjangkau oleh kantong wisatawan lokal. (Ronny A. Buol – http://www.sitaro.wordpress.com)