Tag

,

Sebagaimana yang dimaklumi  selama ini, bahwa Perkebunan Pala yang ada di Kab. Kepl. Sitaro, khususnya di Pulau Siau sebagian besar merupakan Warisan Turun Temurun. Lahan Kepemilikan Perkebunan Pala kebanyakan merupakan milik bersama dari keluarga. Dalam arti, selama orang tua yang mempunyai hak atas kepemilikan lahan dan Pohon Palanya selama itu pula pengelolaan hasil tanaman Pala merupakan hak dari orang tua.

Entah nanti hasil panennya akan dibagi ke anak-anaknya atau pengelolaannya diberikan kepada anak-anaknya. Namun, selama kedua orang tua masih hidup maka Lahan Perkebunan Pala tersebut tidak akan menjadi milik dari anak-anaknya. Hal ini berimbas kepada perkembangan pertambahan lahan dan peremajaan Pohon Pala itu sendiri. Karena, sang anak yang mungkin menginginkan melakukan peremajaan atau penambahan Pohon Pala, akan berpikir seribu kali kalau nanti apa yang telah diusahakannya tersebut tidak menjadi bagiannya. Sebab, dalam kebiasaan Orang Siau, orang tua yang memiliki Lahan Perkebunan Pala, tidak akan memberikan kepemilikannya kepada anak-anaknya sebelum benar-benar orang tua tersebut memasuki “masa tuanya”. Bahkan terdapat banyak kasus, lahan perkebunan Pala tidak sempat dibagi ke anak-anak sampai orang tuanya meninggal.

Demikian yang diungkapkan oleh salah seorang Staff Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kab. Sitaro, Bpk. Barik kepada saya beberapa waktu lalu. Memang seperti juga yang saya amati sejauh ini, budaya pewarisan ini menjadi salah satu kendala dalam peremajaan dan perluasan lahan perkebunan pala yang ada di Pulau Siau khususnya. Namun disatu sisi, hal ini merupakan salah satu “benteng sosial” yang membuat Pala Siau tetap menjadi komoditi terbaik dunia. Karena dari “egoisme orang tua” inilah, anak-anaknya mempertahankan Lahan yang ada tetap ada Pohon Pala.

About these ads