Tag

, , , ,

Pengunjung Blog Sitaro yang setia.

Minggu lalu saya baru kembali dari Pulau Siau, salah satu Pulau terbesar dari Kabupaten Kepulauan SITARO. Tepat seminggu pasca Pilkada. Dapat saya khabarkan kepada “orang siau” di perantauan, bahwa situasi dan kondisi terakhir di Kab. Sitaro, khususnya di Pulau Siau dalam keadaan tenang dan terkendali. Walaupun harus diakui, masih ada kelompok masyarakat yang menolak hasil Pilkada yang memenangkan Pasangan Tony Supit – Piet Kuerah.

Memang sehari setelah Hari H Pilkada, sempat terjadi unjuk rasa yang menyataka keberatan terhadap hasil Pilkada, bahkan kelompok masyarakat sempat menyegel Kantor Bupati di Ondong. Namun kesigapan aparat keamanan yang menurunkan Brimob dari Polda Sulut dapat meredam semua protes tersebut sehingga tidak sampai pada tindakan anarkis. Dan kini, KPUD sudah dapat menetapkan hasil Pleno perhitungan suara yang memenangkan Supit-Kuerah sebagai Bupati Kab. Kepl. Sitaro periode 2008-2011.

Dari perbicangan yang saya lakukan dengan masyarakat, harus diakui Pesta Demokrasi Lokal pertama di bumi Sitaro ini dapat membuat suasana kehidupan masyarakat menjadi berwarna. Seluruh elemen masyarakat, tanpa terkecuali larut dalam pesta demokrasi. Apalagi Kab. Sitaro yang mempunyai karakteristik daerah yang unik, perhelatan Pilkada harus diakui memacu kondisi “pendidikan politik” ke taraf yang lebih baik dari sebelumnya. Demikian pula halnya, dengan protes (gugatan) yang tetap dilancarkan oleh Pasangan Manoi-Tindas, yang saat sekarang dalam proses sidang di Pengadilan Tinggi Manado terhadap kecurangan-kecurangan yang didapati dalam pelaksaan Pilkada, harus dilihat dalam tataran “pendidikan politik” bagi masyarakat Sitaro.

Walaupun sebelum Pilkada ada pernyataan kedua kubu untuk “siap menang siap kalah”, namun politik adalah politik. Dan disitulah, kewajiban dan tanggung jawab politikus mendidik rakyat -terutama konstituennya- untuk belajar demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi tidak akan jalan tanpa sanggahan, protes dan gugatan. Demokrasi justru akan tumbuh pada kondisi heterogen, bukan homogen. Disitulah diperlukan perbedaan pendapat. Maka sewajarnyalah, jika tetap ada “ketidaksetujuan” terhadap hasil Pilkada Sitaro. Hanya saja, kewajiban politikuslah yang mengarahkan “pendidikan politik” tersebut ke arah yang benar, bukan ke arah yang anarkis. Dan perlu juga diingat, bahwa gugatan dan protes dalam demokrasi bukan berarti “menghambat” laju pertumbuhan pembangunan, yang hanya bisa jalan jika ada Pemerintahan yang Definitif. Jadi, silahkan protes, serta gugatan jalan terus, tetapi biarkan juga KPUD bekerja sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, agar supaya Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang belum berusia 2 tahun ini segera memacu diri mengejar ketertinggalan dengan Pemerintah Daerah yang baru.

About these ads